Categories
Uncategorized

The Edge, Amsterdam : Gedung Perkantoran Terpintar Dan Paling Ramah Lingkungan Di Dunia

Gambar 1. Night view gedung perkantoran  The Edge
(Sumber: https://amsterdamsmartcity.com/visit/the-edge-amsterdam Dokumentasi oleh Ronald Tileman)
​The Edge yang terletak di Amsterdam telah dinobatkan sebagai kantor yang paling ramah lingkungan di dunia oleh Building Research Establishment (BRE) dengan nilai 98,36%. Bangunan pintar tersebut dilengkapi dengan berbagai macam teknologi untuk mendukung gerakan hemat energi. Mulai dari teknologi yang bisa mengatur preferensi iklim dan pencahayaan dari smartphone hingga yang mampu menghasilkan energi sendiri untuk memenuhi kebutuhan bangunan kantor. 
​Sistem hemat energinya dapat ditemukan hampir di seluruh bagian bangunan, bahkan fasadnya. The Edge memiliki fasade yang terdiri dari panel-panel kaca seperti bangunan pada umumnya, namun pada sisi yang menghadap ke selatan dipenuhi oleh panel surya sehingga dapat menyimpan energi termal untuk menggerakan sistem pendingin dan pemanas bangunan. Selain itu, bangunan ini juga menyimpan air hujan untuk air siram toilet dan kepentingan irigasi pada lahan hijau. Data dari semua sistem ini tentunya dikirim ke pusat manajemennya sehingga lingkungan kantor berada dalam pengawasan ketat.
Gambar 2. Perspektif interior bangunan
(Sumber: https://www.bloomberg.com/features/2015-the-edge-the-worlds-greenest-building/)
​Hal unik lainnya berada pada area kerja yakni, The Edge tidak memiliki ruang kerja tetap bagi pegawainya. Ini dilakukan agar dapat meningkatkan konektivitas baik antarpegawai maupun antara pegawai dengan lingkungannya.
 
Tentunya The Edge memberikan terobosan baru bagi masa depan dengan menghasilkan energi sendiri dibandingkan dengan menyerapnya. Dengan dibangunnya gedung perkantoran seperti ini, diharapkan juga karya-karya arsitektur selanjutnya dapat mengutamakan kualitas sustainability dan ramah lingkungan.
Categories
Uncategorized

The Future of Co-Living : Rumah Masa Depan Kaum Milenial

Gambar 1. Visualisasi dari konsep co-living (Sumber: dezeen.com
Salah satu permasalahan bagi generasi milenial adalah seputar kebutuhan dan keterbatasan dalam memiliki hunian. Berdasarkan data dari “Indonesia Millennial Report 2019,” 64,9% generasi milenial masih belum mampu untuk membeli hunian sendiri. Apalagi hunian yang berada di lokasi strategis atau dekat dengan daerah Transit Oriented Development (TOD) cenderung lebih mahal dan tidak sesuai dengan budget generasi muda jaman sekarang. Maka milenial cenderung sulit membeli serta memenuhi kebutuhan tempat huniannya.

Berlatar belakang kondisi tersebut, konsep co-living atau konsep rumah tinggal sudah mulai marak dikembangkan sebagai solusi untuk kaum milenial. Konsep ini cocok untuk kaum milenial yang sedang memerlukan hunian karena harganya yang lebih terjangkau. Apalagi co-living dapat diterapkan di hunian seperti rumah atau apartemen yang ditempati bukan oleh satu keluarga, melainkan oleh beberapa penghuni yang masing-masing menempati satu kamar. 

Konsep co-living menawarkan solusi kebutuhan tempat tinggal yang menyesuaikan dengan gaya hidup kaum milenial. Selain itu, konsep ini juga dapat menjadi hunian bagi komunitas yang dapat membentuk interaksi antar sesama penghuni, sehingga menciptakan hubungan yang lebih akrab antara sesama penghuni dan lingkungannya. 

Gambar 2. Lobby dari kompartemen Rukita, start-up proptech di Indonesia yang memberikan pelayanan co-living. (Sumber: dailysocial.id
Salah satu contoh penerapan konsep hunian ini di Indonesia adalah perusahaan start-up bernama Rukita yang baru didirikan pada April 2019 lalu. Rukita hadir untuk memberikan hunian terjangkau dan gaya hidup yang lebih baik dengan mengedepankan kebersamaan bagi kaum milenial. “Salah satu cara Rukita mewujudkan ide tersebut adalah dengan menciptakan hunian co-living berkualitas yang bebas ribet, sehingga memungkinkan para penghuni untuk menikmati hidup sebagai bagian dari sebuah komunitas tanpa harus mengorbankan privasinya,” jelas Sabrina Soewatdy selaku CEO dan Co-founder dari Rukita.

Lalu, apakah tren co-living ini akan semakin berkembang kedepannya, menurut penelitian oleh Urban Institutes Housing Finance Policy Center, hanya 1 dari 3 milenial di bawah usia 25 yang memiliki rumah pada akhir tahun 2018. Angka ini 8-9% lebih rendah dari generasi sebelumnya yang sudah memiliki rumah dibawah usia 25 tahun. Hunian konvensional membutuhkan adaptasi ini karena target pasar yang mengalami perubahan drastis, baik dari gaya hidup maupun kebiasaan. Co-living telah menjadi lebih dari sekedar konsep hunian, tetapi telah menjadi solusi bagi generasi muda yang selalu dinamis. Jadi, apakah konsep co-living adalah hunian yang tepat untukmu?

Categories
Uncategorized

HUT MAJALAH SKETSA 31 : SUSTAINABLE LIFESTYLE

PAMERAN HUT SKETSA 31 : IMPACT

WORKSHOP HUT SKETSA 31 :
​ECOPRINTING AND ORGANIC SOAP

SEMINAR HUT SKETSA 31: CAN WE BUILD SUSTAINABLY?

Categories
Uncategorized

Hospitality Indonesia (23 – 26 October 2019)

Hospitality Indonesia
Hospitality Indonesia is a premier international showcase of hospitality suppliers and design in Indonesia. Hospitality Indonesia aims to define the future of hospitality design through introducing key design trends, not only to design-related individuals, but also to wider public. As a platform, we gather interior designers, architects and other stakeholders in hospitality industries to brainstorm together to create intriguing conversations about innovations, technology, materials, suppliers, as well as inspirations and knowledge.
 
Furniture & Craft Indonesia
Together with Indonesia Furniture & Craft Promotion Forum (IFPF), Furniture & Craft Indonesia aims to be a one-stop international destination and Southeast Asia’s leader for furniture and furnishing sourcing in October. The exhibition will gather top-notch manufacturers and designers of furniture, furnishing, craft, gift and accessories.
 
Mozaik Indonesia
This exhibition is a perfect ecosystem for project-based lifestyle interior and product design professionals with global minded. As a leading trade event for lifestyle interior, design and projects in Indonesia, Mozaik Indonesia creates a momentum for innovative and smart design solutions that will shape future trends in the interior design industries.
 
Hotel Sourcing Indonesia
As a design-oriented non-F&B hotel suppliers exhibition in Indonesia, Hotel Sourcing Indonesia offers an extensive and  in-depth insights about supplying market in hospitality industries. The exhibition will connect architects, interior designers, hoteliers, commercial designers, developers and other professionals to explore projects resources, as well as product and service suppliers under one roof.
 
Exhibition Title:
Hospitality Indonesia 2019
Indonesia Hospitality & Design Expo

  • Mozaik Indonesia
  • Furniture & Craft Indonesia
  • Hotel Sourcing Indonesia

 
Date:
23 – 26 October 2019
 
Opening hours:
Trade days: 23 – 25 October 2019 from 10:00 to 18:00
 
Public Day: 26 October 2019 from 10:00 to 17:00
 
Location:
Jakarta International Expo (JIExpo)
 
Entrance Fee:
Free for online registration
Rp.50.000,-/days for on-site registration

Categories
Uncategorized

SELASAR ARSITEKTUR 2019: Generasi Muda Arsitektur

Institut Français Indonesia, 27 Juli 2019
 
 
Selasar Arsitektur merupakan sebuah sesi diskusi arsitektur tahunan yang pertama kali diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Arsitektur Adhisthana – Universitas Trisakti. Tema yang diangkat pada tahun ini adalah ‘Generasi Muda Arsitektur’.
 
Tema acara kali ini ditujukan untuk generasi muda yang berkecimpung di bidang arsitektur, tidak hanya praktisi namun juga non-praktisi. Maka, pembicara yang diundang adalah tokoh arsitektur dengan ragam spesialisasi yang berbeda.
Gambar 1. Acara diskursus “Generasi Muda Arsitektur” pembicara oleh Relan Masato, Realrich Sjarief, Imelda Akmal, dan Danny Wicaksono. (Sumber: dok.Panitia Selasar Arsitektur 2019)

Selasar Arsitektur 2019 ini berlangsung pada hari Sabtu, 27 Juli 2019 dari pukul 13.30 hingga pukul 17.30 WIB di Auditorium Institut Français Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat.
Gambar 2. Selasar Arsitektur 2019 (Sumber: dok.Panitia Selasar Arsitektur 2019)

​Acara ini dibagi menjadi dua sesi, dimana masing-masing sesinya diisi oleh dua pembicara. Pada sesi pertama, disampaikan materi mengenai Pendidikan Arsitektur oleh Danny Wicaksono, dan bidang Keprofesian Arsitek oleh Relan Masato. Sebelum berakhirnya sesi pertama, terdapat presentasi singkat dari MRT Jakarta sebagai pendukung acara Selasar Arsitektur. kemudian sesi ditutup dengan coffee break.
 
Sesi kedua dimulai dengan materi dari bidang non-praktisi yang disampaikan oleh Imelda Akmal, dan dilanjutkan dengan materi terakhir oleh arsitek Realrich Sjarief. Di penghujung acara terdapat sesi tanya jawab oleh seluruh narasumber agar dapat menyampaikan pandangannya kepada para peserta. Sesi tanya jawab ini dilanjutkan dengan foto bersama, yang sekaligus menjadi akhir dari acara Selasar Arsitektur 2019.
Categories
Uncategorized

Designing Future Hospitality

​As the only trade show that collaborates hospitality industry with design sector in Southeast Asia, Hospitality Indonesia aims to bring the best ecosystem for both businesses every year. Held during the Asia’s sourcing season for home living & decoration, Hospitality Indonesia 2019 is 4 days of pure hospitality design inspirations, inviting creative industry actors who have capabilities on hospitality projects, such as hotels, restaurants, airports, offices, and public spaces to explore more than 150 projects resources, as well as product and service suppliers under one roof on 23 – 26 October 2019 at Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta.
Through a design-wise perspective, innovations and human-centered solutions will refine every element in the hospitality scheme that will shape future trends in the hospitality and design industries. Therefore, Hospitality Indonesia exists as an active contributor to the country’s progressive planning on infrastructure and tourism in enhancing hospitality industry.
At Hospitality Indonesia, domestics and international visitors will find the most comprehensive selection of Indonesian furniture, design, manufacturers, smart technology and other resources for hospitality, residential and public spaces. Hospitality Indonesia  will have 3 main sectors: Furniture & Craft Indonesia, Mozaik Indonesia, and Hotel Sourcing Indonesia. Each category will offer an effective and supportive environment for both hoteliers and creative industry professionals from different angles. Mozaik Indonesia will welcome contract interior and product design hunters, while Furniture & Craft Indonesia will cover everything in furniture sourcing. At the same time, Hotel Sourcing Indonesia will be the destination for non- F & B hotel and restaurant supplies.
This year Hospitality Indonesia is excited to announce Eugenio Hendro as Hospitality Indonesia Gold Designer 2019 who will showcase hospitality design collaboration  spaces called ‘The Rooms’, the iconic installation rooms presented each year at Hospitality Indonesia. Not only that, the show will also host various inspiring talks and seminar that features eligible speakers from the industry.
Categories
Uncategorized

FOR-REST HOUSE :                                                                                            Rumah ‘healing’ yang meningkatkan produktivitas dan kesehatan mental

​Nama Proyek     : For-Rest House
Lokasi                   : Jalan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Indonesia
Kompetisi           : WFH Workshop A dream house that respond to pandemic situation
Penyelenggara   : Arcasia Committee on Young Architect – Yogyakarta Young Architect Forum 2020
Status                  : Competition Entry
Tim Desain          : Eka Sidangoli, Adrian Lazaro, dan Laurentius Dwiki Adi N
Institusi               : Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Gambar 1. Perspektif eksterior For-Rest House (Sumber: Dokumentasi Peserta Sayembara)
Latar Belakang
Di tengah pandemi COVID-19 saat ini, orang-orang di seluruh dunia dipaksa untuk tinggal dan melakukan kegiatan dari rumah dengan tujuan memutus penyebaran virus. Tantangan baru ini mendorong munculnya kebutuhan bagi setiap orang untuk menerapkan pola hidup sehat dan produktif di rumah.
Namun pada kenyataanya, tantangan ini justru memiliki dampak negatif yang kuat terkait dengan mental dan kesehatan manusia. Penyebabnya antara lain ketidaksiapan masyarakat menghadapi COVID-19 dan media yang tidak hentinya memberikan informasi negatif mengenai COVID-19, sehingga menimbulkan kecemasan pada masyarakat. Kecemasan ini merambat ke beberapa aspek kehidupan seperti ekonomi, kesehatan, pangan, dan produktivitas. Jika hal ini tidak ditangani dengan tepat, dikhawatirkan akan menjadi ‘virus kesehatan’ yang baru di tengah maraknya pandemi COVID-19.
 
Lokasi
Lokasi yang dipilih berada di Provinsi DKI Jakarta, sebagai provinsi dengan kasus COVID-19 terbanyak di Indonesia, yaitu sebanyak 3.112 kasus positif dengan kematian sejumlah 297 orang berdasarkan data pada tanggal 20 April 2020 dari Provinsi DKI Jakarta.
Gambar 2. Lokasi proyek, Jl. Mampang Prapatan, Jakarta Selatan Indonesia. (Sumber: Google maps)
Sasaran Pengguna
1 Keluarga besar :
– Kakek-Nenek (manula)
– Bapak-Ibu (pekerja)
– Anak 2 (pelajar)
 
Konsep For-Rest House
Berangkat dari isu COVID-19, konsep For-Rest House hadir sebagai solusi kesehatan mental dan psikis masyarakat melalui pendekatan alam berupa suasana hutan yang memicu perasaan positif untuk produktivitas pengguna. Dari segi fungsi, For-Rest House beradaptasi dengan perilaku manusia yang cenderung jenuh dengan keadaan sebagai rumah healing.
For-Rest House berperan untuk menghadirkan suasana asri alam dalam hunian ditengah kota. Dengan demikian, masyarakat yang biasanya sibuk sepanjang hari dapat beristirahat di rumah dengan suasana alam yang kental untuk membantu meningkatkan produktivitas di tengah Pandemi COVID-19.
Beberapa ruang yang menghadirkan konsep ini meliputi ruang keluarga, kamar manula, workspace, area relaksasi, dan urban farming.

Gubahan Massa
Gambar 3. Gubahan massa. (Sumber: Dokumentasi Peserta Sayembara)
​Gambar 4. Potongan melintang bangunan. (Sumber: Dokumentasi Peserta Sayembara)
Implementasi Desain

Ruang Keluarga
​Gambar 5. Interior Ruang Keluarga. (Sumber : Dokumentasi Peserta Sayembara)
​Ruang keluarga melingkupi ruang doa, dimana ruangan ini terintegrasi dengan konsep hutan untuk menambah kesan dekat dengan alam. Sliding Door menggunakan material kaca transparan yang berperan sebagai pemisah ruang. Saat pintu dibuka, maka ruangan ini akan menyatu dengan ruang utama.
​Gambar 6. Interior Ruang Doa. (Sumber: Dokumentasi Peserta Sayembara)
Kamar Manula
Gambar 7. Interior Kamar Manula. (Sumber : Dokumentasi Peserta Sayembara)
Pendekatan hutan yang diimplementasikan pada kamar manula berupa deck untuk kegiatan berjemur dengan pencahayaan alami khas suasana alam. Kamar ini dilengkapi glass sliding door untuk menambah kesan ruang yang luas dan mudah dibuka oleh pengguna.
                             
Workspace
Gambar 8. Interior Workspace. (Sumber : Dokumentasi Peserta Sayembara)
​Suasana alam yang kuat pada lantai dua diterapkan pada area anak untuk belajar dan membaca sebagai stress relief dan meningkatkan mood produktif anak. Aplikasinya pada ruang anak berupa lantai parket kayu, dinding bata ekspos, dan plafon kayu.
Gambar 9. Material Workspace. (Sumber : Dokumentasi Peserta Sayembara)
​Dinding bata diekspos dengan variasi tata letak yang baru. Hal ini berfungsi sebagai estetika seni penataan bata dan membuka rongga untuk sirkulasi udara sehingga ruangan terasa dingin.
Gambar 10. Pemasangan detail craftsmanship brick exposed. (Sumber : Dokumentasi Peserta Sayembara)
Area Relaksasi
Gambar 11. Interior Ruang Relaksasi. (Sumber : Dokumentasi Peserta Sayembara)
​Sebagai area hijau privat, area ini berperan sebagai ruang yang meningkatkan imun tubuh dan gairah kesehatan yang semakin baik. Secara visual, ruang relaksasi ini menambah kesan sejuk dan tenang serta dapat berfungsi sebagai ruang yoga, workout, dan ruang santai.
Gambar 12. Interior Ruang Relaksasi (Sumber : Dokumentasi Peserta Sayembara)
​Selain itu, area relaksasi yang menyerupai hutan ini dilengkapi oleh tanaman anti nyamuk agar penghuni dapat tinggal dengan nyaman.
​Gambar 13. Tanaman anti nyamuk dan material lantai. (Sumber : Dokumentasi Peserta Sayembara)
Urban Farming
​Gambar 14. Interior urban farming. (Sumber : Dokumentasi Peserta Sayembara)
Pendekatan hutan diimplementasikan menjadi sebuah ruang yang mendukung kegiatan produktif  untuk manula, yaitu bercocok tanam buah dan sayur pribadi agar kesehatan mental dan jiwa dapat terjaga dengan baik.

Health Sequence

Gambar 15. Diagram health sequence. (Sumber : Dokumentasi Peserta Sayembara)
​Rangkaian program aktivitas pada For-Rest House menciptakan beberapa alternatif untuk menggantikan kegiatan yang lama dengan berbagai aktivitas baru serta menyalurkan energi produktivitas manusia di tengah pandemi COVID-19. Manusia yang sebelumnya sibuk bekerja, akan menggunakan ruang relaksasi sebagai terapi stres mereka. Program lain yang diciptakan di For-Rest House mendukung anak-anak hingga manula untuk tetap memiliki kegiatan. Hal ini mendorong adanya family time dengan waktu bekerja dan berkumpul dengan keluarga yang seimbang.
Categories
Uncategorized

Material Bangunan Inovatif untuk Masa Depan

​Kecerdasan manusia telah membawa kita pada kemajuan teknologi dan teknik konstruksi modern. Akan tetapi, hal ini belum tentu bersifat ramah lingkungan. Saat ini limbah kontruksi menjadi salah satu polutan terbesar yang dapat mencemari lingkungan dan berdampak buruk bagi kesehatan. Kebutuhan untuk mengurangi emisi karbon global mendorong kita untuk mencari material inovatif yang sifatnya berkelanjutan.

Berikut ini adalah beberapa inovasi material yang sedang dikembangkan.


​1. 3D-print bioplastic

Perusahaan Aectual percaya bahwa penggunaan printer 3D untuk pembangunan sebuah desain adalah solusi yang tepat untuk mengurangi limbah konstruksi. Teknologi 3D printing ini menggunakan bioplastic yang terbuat dari polimer nabati yang merupakan material terbarukan (renewable).

Gambar 1.1. Penggunaan 3D-printing untuk bahan penutup lantai (Sumber: Aectual)
Gambar 1.2. Detail penutup lantai (Sumber: Aectual)


​2. Carbon fiber reinforced plastic

Material yang diperkenalkan pada pertengahan tahun tujuh puluhan ini memiliki kekakuan dan kekuatan seperti baja. Dengan tingkat kepadatan yang hanya seperempat dari baja, maka material ini menjadi lebih efisien.  Material ini dapat digunakan untuk badan mobil, komponen konstruksi dan peralatan olahraga.

Gambar 2. Serat carbon fiber (Sumber:Craftech)

​3. Translucent concrete
​Translucent concrete adalah beton dengan sifat tembus cahaya karena memiliki sekitar 4 persen elemen optical fibers yang tertanam pada beton. Biasanya material ini digunakan untuk fasad dan cladding dinding interior sebagai sumber pencahayaan alami yang dapat mengurangi pemakaian listrik.
Gambar 3. Dinding yang terbuat dari beton translucent (Sumber: The Constructor)

​4. Unfired clay bricks
​Material ini terbuat dari bahan yang sama seperti batu bata pada umumnya, tetapi cara pengeringannya tidak dibakar, melainkan hanya dikeringkan saja. Sehingga proses pembuatannya lebih efisien dan ramah lingkungan karena tidak mengeluarkan gas emisi.
Gambar 4. Unfired clay bricks. (Sumber: arc-architects.com)
 
5. Self-repairing concrete
​Beton yang sedang dikembangkan ini memiliki kemampuan untuk memperbaiki retak sendiri, karena terdapat mikrokapsul yang mengeluarkan resin epoksi, yang berfungsi sebagai lem untuk material ini. Sehingga, perawatan bangunan akan menjadi lebih mudah karena tidak perlu khawatir betonnya akan keropos.
Gambar 5. Mikrokapsul dalam self-repairing concrete. (Sumber: popularmechanics.com)

6. Malleable matter (bahan lunak)
Gambar 6. TransHab yang dikembangkan oleh NASA. (Sumber: thefutureofthings.com)
​TransHab (Transit Habitat) milik NASA merupakan struktur inflatable, yang dapat mengembang seperti balon. Sehingga membutuhkan lapisan material yang bersifat malleable atau lunak. Sisi luar bangunan ini terbuat dari Kevlar yang dianyam secara khusus dan lapisan bawahnya terbuat dari Nextel, yakni sebuah kain keramik (ceramic fabric). Selain itu material-material ini juga berfungsi sebagai thermal insulator agar suhu di dalam TransHab tetap stabil. Transit Habitat ini digunakan di luar angkasa sebagai hunian portable yang efisien karena bisa menyediakan ruang dengan kondisi dapat ditinggali tanpa mengambil sumber daya sekitar.
 
Inovasi material tidak akan pernah berhenti karena teknologi akan terus berkembang, apalagi proses penelitian telah menghasilkan beberapa material yang lebih awet dan ramah lingkungan. Sehingga dengan inovasi material, maka arsitek dan rumpun profesi lainnya bisa mendesain bangunan yang lebih baik lagi di masa depan.
Categories
Uncategorized

PASSAR 2019: Menciptakan Ruang Ramah Disabilitas

Gambar 1. Sharing discussion oleh para pembicara yang sedang membahas bangunan ramah disabilitas. (Sumber: dok. Majalah SKETSA)
Pameran Selasar (PASSAR) 2019 merupakan salah satu kegiatan tahunan yang diselenggarakan pada tanggal 5-13 September 2019, oleh Himpunan Mahasiswa Arsitektur Universitas Mercu Buana pada tema yang diangkat pada tahun ini adalah “Berempati dalam Ruang”, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa arsitektur akan pentingnya desain untuk penyandang disabilitas.

​Terdapat beberapa kegiatan seperti pameran yang menampilkan karya-karya mahasiswa Arsitektur Universitas Mercu Buana, Workshop Bamboo Art Creation, kompetisi menggambar menggunakan AutoCAD, dan menggambar mural Arch on Street yang semuanya dilaksanakan di Universitas Mercu Buana, Jakarta Barat.

Gambar 2. Sesi pembicara oleh Ir. Hadi Sucahyono Mpp., PH. (Sumber: dok. PASSAR 2019)
Kemudian, pada hari Kamis, 12 September 2019, diadakan sesi seminar yang dihadiri oleh Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Ir. Hadi Sucahyono MPP., PH., senior architect Agung Podomoro Group, Christie Damayanti, dan Sigit Kusumawijaya selaku kepala biro arsitek Sigit Kusumawijaya. Mereka memaparkan bahwa seorang arsitek harus mampu merancang bangunan ramah untuk penyandang disabilitas, karena mereka memerlukan desain lebih khusus agar dapat leluasa bergerak, seperti sirkulasi kursi roda, dan penggunaan paving block dalam bangunan.

Kemudian terdapat pembahasan yang menarik Bahwa pemerintah sudah membuat Peraturan Menteri PUPR No. 14 /PRT/M/2017 tentang Persayaratan Kemudahan Bangunan Gedung, yang dimana peraturan tersebut dibuat agar selain harus memenuhi standar dan ketentuan yang sudah berlaku, rancangan bangunan nantinya dapat mengakomodasi penyandang disabilitas sebagai satu dari calon pengguna bangunan nantinya.
Categories
Uncategorized

Bintaro Design District 2019 : Inclusivity

Gambar 1. Instalasi String Composition 1st Series karya Rubi Roesli dari Biroe Architecture & Interior di Taman Telaga Sampireun. (Sumber : dok. SKETSA)

Keterbukaan merupakan sesuatu hal yang dapat mempersatukan berbagai individu dengan latar belakang yang berbeda, tanpa menimbulkan kesan ekslusivitas. Hal itulah yang diangkat pada Bintaro Design District 2019 yang mengambil tema Inclusivity atau keterbukaan.

Acara tahunan yang diselenggarakan dan dikurasikan oleh Andra Matin, Budi Pradono, Danny Wicaksono, dan Hermawan Tanzil ini berlangsung pada tanggal 28 November hingga 7 Desember 2019 dilebih dari 70 titik disekitar Jakarta dan Tangerang.

BDD membuka kesempatan kepada masyarakat untuk  mengunjungi, serta melihat keadaan tempat kerja arsitek, desainer interior, sinematografer, desainer grafis, dan desainer produk . Selain itu kegiatan ini juga mengadakan beberapa sesi talkshow, pameran, dan kunjungan karya ke beberapa studio arsitek, maupun interior seperti rumah, dan kafe.

Pengunjung pada dasarnya bebas memilih lokasi yang akan dituju, namun sebelum berkunjung, perlu diperhatikan bahwa tidak semua lokasi buka setiap hari, sehingga pengunjung mengunduh aplikasi BDD di perangkat smartphone untuk melihat jam kunjungan. Apalagi beberapa kegiatan seperti seminar, talkshow, dan kunjungan ke beberapa tempat seperti Rumah Palem, Twin House, dan instalasi Change, memerlukan registrasi khusus karena jumlah pengujung dibatasi.

​Gambar 2. Budi Pradono dari Budipradono Architects yang sedang menjelaskan salah satu karyanya kepada pengunjung (Sumber: dok. SKETSA)
​Gambar 3. Pameran Mother Earth & Architecture di Han Awal & Partners yang memamerkan perjalanan Yori Antar mengenali arsitektur vernakuler, serta masyarakat di Indonesia
​(Sumber: dok. SKETSA)
​Gambar 4. Instalasi Catalyst karya ON Studio dan HANDAVINCENT ARCHITECTS di taman yang berada di perumahan Discovery, Pondok Aren. (Sumber: dok. SKETSA)
Gambar 5. Musholla Kotakrat karya PSA Studio di Kebun Ide yang menggunakan peti plastik minuman sebagai dinding dan atap bangunan. (Sumber: dok. SKETSA)
Gambar 6. Instalasi (re)pods karya Atelier Riri yang memerlihatkan bangunan kecil yang berfungsi sebagai toko dan hunian sebagai salah satu solusi dalam menyikapi isu keterbatasan lahan.
​(Sumber : dok. SKETSA)
​Gambar 7. Tur Rumah Palem karya Andra Matin yang menjadi salah satu lokasi tur terbatas.   
​(Sumber: dok. SKETSA)
Gambar 8. Instalasi pameran Mengingat Bintaro sekaligus openhouse Reduhouse.08 karya SPOA dan Kamengski yang menceritakan perkembangan Bintaro selama beberapa dekade terakhir. 
​(Sumber: dok. SKETSA)
 
Pada hari terakhir penyelenggaraan acara ini, panitia mengumumkan bahwa BDD 2020 akan mengambil tema “Berbagi Masa Depan” dengan harapan bahwa dengan berbagi ilmu, cerita, dan saling peduli, maka dapat tercipta sebuah masa depan yang lebih baik.
​Gambar 9. Suasana Penutupan BDD 2019 di instalasi Genang karya Adria Yurike Architects di Taman Telaga Sampierun. Acara di isi dengan pengumuman pemenang kontes foto dan karya terbaik, sekaligus tema BDD 2020: Berbagi Masa Depan. ​(Sumber: dok. SKETSA)
 
Pada hari terakhir penyelenggaraan acara ini, panitia mengumumkan bahwa BDD 2020 akan mengambil tema “Berbagi Masa Depan” dengan harapan bahwa dengan berbagi ilmu, cerita, dan saling peduli, maka dapat tercipta sebuah masa depan yang lebih baik.