Categories
Uncategorized

IAI JAKARTA AWARDS 2015


Arsitek sebagai warganegara yang sadar akan panggilan untuk memelihara pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan serta peradaban manusia, senantiasa belajar dan mengabdikan keahlian serta pengetahuannya melalui berbagai cara pendekatan, pemikiran yang arif dan bijak, sesuai dengan hakikat kemanusiaan, demi tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa, umat manusia, bangsa, negara, dan profesi.

Memberi penghargaan kepada karya, para Arsitek dan community of interest bidang Arsitektur merupakan tradisi dalam organisasi profesi Arsitek di mana pun, termasuk Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta.

IAI Jakarta Awards merupakan ajang penghargaan tertinggi yang diberikan untuk karya Arsitektur yang dirancang oleh anggota IAI yang karyanya berlokasi di wilayah DKI Jakarta. Pertama kali diselenggarakan pada tahun 2006, dan tahun 2015 ini diadakan kembali IAI Jakarta Awards yang keempat. Visi penyelenggaraan IAI Jakarta Awards merupakan usaha untuk memacu semangat berkarya dalam bidang Arsitektur, memberi Inspirasi ke depan, sebagai tolak ukur perkembangan Arsitektur, dan Inovasi dalam bidang Arsitektur.

Perkembangan keprofesian Arsitek dan hasil pembangunan bidang Arsitektur khususnya di wilayah DKI Jakarta telah mencapai tahap yang lebih maju, namun dipandang perlu untuk semakin meningkatkan dan memacu minat, motivasi dan apresiasi terhadap kontribusi dan dedikasi di bidang Arsitektur. Penyelenggaraan IAI Jakarta Awards yang keempat kalinya di tahun 2015, menyediakan 4 kategori penghargaan utama berdasarkan pemisahan aktivitas / kegiatan yang memenuhi semua kaidah-kaidah arsitektur dan aspek legalitas. Kategori penghargaan yang pertama adalah Hunian/ Living Space, yang kedua adalah Komersial/ Commercial, yang ketiga adalah Fasilitas Publik/ Public Amenities, dan yang terakhir adalah Konservasi/ Conservation.

Kunci utama penilaian IAI Jakarta Awards 2015 adalah inovasi dan dapat memberi inspirasi ke depan. Tahun 2015 juga diadakan pertama kalinya seleksi bertahap yang dinilai oleh dewan juri utama dan dewan juri spesialis. Penilaian tahap pertama dilakukan oleh dewan juri spesialis. Dewan juri spesialis ditunjuk berdasarkan kompetensi menilai dalam bidangnya, pada kategori hunian dinilai oleh Tan Tik Lam dan Faried Masdoeki, kategori komersial dinilai oleh Budi Sumaatmadja dan Lawrence Limas, kategori fasilitas publik dinilai oleh Sofian Sibarani dan Paulus
Mintarga, dan kategori konservasi dinilai/ ditinjau oleh Arya Abieta serta Nadia Purwestri. Sedangkan penilaian tahap akhir dilakukan oleh dewan juri utama yang terdiri dari Prof Yandi Andri Yatmo, Ary Indrajanto, Eko Prawoto, Sardjono Sani dan Wendy Djuhara.
Penghargaan Utama jatuh kepada Arsitek Wiyoga Nurdiansyah dan Muhammad Sagitha dari SUB atas karyanya yang berjudul Rumah Swadaya. Dan kepada Arsitek Gregorius Supie Yolodi dan Maria Rosantina dari d-associates atas karyanya yang berjudul Kasana Office.

Penghargaan Pujian jatuh kepada Arsitek Jasin Tedjasukmana dari KIAT Architects atas karyanya yang berjudul Hotel The Hermitage. Dan kepada Arsitek Budiman Hendropurnomo dan Dicky Hendrasto atas karyanya yang berjudul DoubleTree by Hilton, Menteng.

Adapun diluar penghargaan utama tersebut. Terdapat 4 kategori pengakuan / acknowledgement yang diberikan kepada Imelda Akmal untuk pengakuan media dan program Arsitektur, pengakuan perancangan kota/kawasan/lingkungan diputuskan tidak ada yang menerima, pengakuan proyek tidak/belum terbangun diberikan kepada Hasan Halim sebagai pemenang sayembara gagasan penataan pasar baru beserta King Yuwono sebagai penggagas sayembara, dan yang terakhir pengakuan individu diberikan kepada Rita Widagdo.

Para pemenang diberikan penghargaan pada acara malam penganugerahan IAI Jakarta Awards 2015 yang diselenggarakan pada tanggal 3 Desember 2015 di Thamrin Nine Ballroom UOB Plaza, dalam rangkaian Jakarta Architecture Triennale 2015. Di penghujung acara, Ketua Panitia Pelaksana IAI Jakarta Awards 2015, Bambang Wicaksono mengatakan akan membuka peluang kerjasama bagi rekanan media IAI Jakarta untuk dapat berkolaborasi mengabadikan proses dalam bentuk penerbitan buku IAI Jakarta Awards yang keempat. 

Picture

Penghargaan ditujukan kepada Double Tree by Hilton Menteng
Sumber Doc. Pribadi Sketsa

Penghargaan ditujukan kepada Hotel the Hermitage
​Sumber Doc.Pribadi Sketsa
Penghargaan Media Arsitektur ditujukan kepada Imelda Akmal
Sumber Doc. Pribadi Sketsa
Categories
Uncategorized

Miniatur Samudera Pasifik ‘Ring of Fire’ Osaka Aquarium

              Salah satu upaya untuk mendukung dan menjaga kelestarian lingkungan hidup habitat laut khususnya bagi flora dan fauna penghuni Samudera Pasifik, telah didirikan sebuah akuarium raksasa di Jepang. Akuarium yang telah dibuka sejak 20 Juli 1990 ini dikenal dengan nama Osaka Aquarium karena terletak di sekitar daerah dermaga Tempozan yang dulunya digunakan sebagai pergudangan dan merupakan pintu masuk sebelah dalam ke Pelabuhan Osaka. 
Akuarium raksasa dengan luas 26.500 m2  yang dikenal sebagai ‘Ring of Fire’.
Sumber: http://travelneu.com/tourism/japan/osaka-aquarium-kaiyukan
Ring of Fire
               Akuarium raksasa seluas sekitar 286.000 kaki persegi atau 26.500 m2 ini dikenal sebagai ‘Ring of Fire’ karena akuarium ini menampung sekitar 16.000 ikan, mamalia laut, burung, reptil, amfibia dan hewan-hewan invertebrata lebih dari 300 spesies yang berasal dari Samudera Pasifik dan sepanjang jalur gunung berapi Pasifik.

               Proyek senilai 107 juta dollar Amerika yang dirancang oleh Cambridge Seven Associates untuk Osaka Waterfront Development Co. ini berisi sekitar 2.9 juta galon air dan memuat koleksi satwa yang ditampilkan dalam 9 tiruan habitat alaminya sehingga dapat memberikan kesan pada para pengunjung seperti sedang berjalan di dalam Samudera Pasifik itu sendiri serta menggugah pengunjung untuk memikirkan keharmonisan hubungan antara manusia dan laut.

Skema umum Osaka Aquarium, dimulai dari area hutan Jepang di sudut kiri atas hingg ke ruang pameran.
Sumber: http://architecturalmoleskine.blogspot.com/2012/10/waterfront-in-tempozan-i-osaka-aquarium.html
               Kompleks akuarium raksasa ini juga memiliki tempat perbelanjaan dengan bermacam-macam toko dan restoran, serta dilengkapi dengan parkir bawah tanah, di mana diharapkan dapat menyedot lebih dari dua juta wisatawan dari berbagai penjuru dunia setiap tahunnya.

Konsep Perancangan Osaka Aquarium
               Konsepsi dasar dari ‘Ring of Fire’ adalah keinginan untuk menyajikan seluruh kehidupan Pasifik dan permukaan laut yang dinamis, yaitu secara geologis maupun sistem biologisnya yang senantiasa berubah. Konsepsi dasar tersebut juga dikaitkan dengan kehidupan masyarakat Jepang sendiri yang digambarkan sebagai masyarakat kepulauan serta memiliki hubungan yang erat dalam segi geografis, ekonomis, maupun kebudayaan dengan bagian lainnya dari Samudera Pasifik.

               Akuarium ini ingin menciptakan suatu tempat yang menyenangkan bagi seluruh bentuk kehidupan di bumi dengan menampilkan keindahan dari sistem alamiah, termasuk keajaiban dan keindahan satwa laut agar pengunjung dapat merasakan keanekaragaman kehidupan seperti halnya jika mereka melakukan perjalanan berkeliling dunia.

Pengunjung diajak untuk merasakan perjalanan di dalam Samudera Pasifik
Sumber: http://www.tokyotravelpal.com/tour-Osaka-Bay-Area-Half-Day-Tour.htm
               Dalam kesatuan dengan lingkungan sekitarnya, Osaka Aquarium menjadi manifestasi dari keinginan untuk menciptakan suatu elemen yang dapat membedakan kota Osaka dengan kota-kota lainnya di dunia dengan menciptakan urban resort berupa playground di dalam kota yang lengkap dengan pertokoan, plaza-plaza dan restoran serta dilengkapi dengan perkantoran dan apartemen.

Perwujudan Desain Osaka Aquarium
               Dalam desain, Osaka Aquarium akan menampilkan suatu perjalanan yang mengitari Ring of Fire dalam delapan area berbeda yang menggambarkan tepi dari Samudera Pasifik, Jepang, Kepulauan Aleutian, Teluk Monterey di California, Teluk Panama, Equador/Chili, Antartika, Laut Tasman dan Great Barrier Reef Australia. Kedelapan area ini diimplementasikan dalam Osaka Aquarium melalui penempatan ruang-ruang pamer dan menjadi semacam peta dengan titik-titik penunjuk arah.

               Perjalanan pada kompleks akuarium dimulai dari suatu plaza menuju bagian entrance bangunan melalui lorong gelap dan terdapat proyeksi-proyeksi dari gunung-gunung berapi yang meletus. Aliran lava yang mengalir ke laut terasa begitu nyata. Pengunjung akan melintasi jembatan sambil mengikuti perjalanan pembentukan kehidupan di dalam laut.

               Secara keseluruhan, Osaka Aquarium memiliki 14 (empat belas) tanki dengan satu tanki pusat yang terbesar. Tanki-tanki tersebut berasal dari bahan acrylic dengan ketebalan 30 cm. Tanki tersebut dilengkapi dengan sistem penyaringan dan dimonitor oleh staf untuk menjaga ketetapan suhu agar sesuai dengan habitat asli Samudera Pasifik.
Tanki-tanki raksasa yang menampung kurang lebih 1,4 juta galon air
Sumber: http://www.travelpanda.org/japan/osaka-aquarium-kaiyukan/

Penampilan Bangunan Osaka Aquarium
               Seluruh massa bangunan Osaka Aquarium dilapisi oleh keramik berwarna biru yang mengekspresikan kehidupan laut. Kaca berwarna merah ditempatkan pada bagian puncak bangunan mengekspresikan “api” sebagai perwujudan Ring of Fire. Dengan berpusat pada bagian tengah dari setiap tampak bangunan, di antara volume kaca merah dan kaca transparan terdapat rangka logam berwarna kuning yang berisi gas dan akan menyala bagaikan nyala api di malam hari. 
Tampak Depan Osaka Aquarium
Sumber: http://chroniclesofyoyo.com/2012/11/16/osaka-aquarium/

                Dengan keberadaan Osaka Aquarium, diharap masyarakat tergugah untuk melakukan konservasi dan menaruh perhatian terhadap lingkungan. Diharapkan secara khusus Osaka Aquarium dapat menjadi salah satu pusat pelestarian satwa langka, sumber informasi dan pusat penelitian. Osaka Aquarium diharapkan menjadi pintu untuk membuka wawasan akan kehidupan bawah laut. (disunting dari majalah SKETSA 9:Waterfront Developmentl; editor:CA)