Categories
Uncategorized

Talk’s First Day Event at Jakarta Architecture Treinnale

​Pada hari Selasa, 1 Desember 2015, SKETSA berkesempatan untuk menghadiri  Opening dari serangkaian acara JAT (Jakarta Architecture Triennale) yang diselenggarakan dalam rangka Hari Bakti PU ke 70 di Nine Ballroom UOB. Melalui kolaborasi yang dilakukan oleh Kementrian PUPR Ditjen Cipta Karya dan IAI (Ikatan Arsitek Indonesia), diadakan rangkaian TALK (acara): Melembagakan Undang-Undang Bangunan Gedung Menuju Kota Layak Huni dan Berkelanjutan.
 
Opening  yang dimulai pukul 09.00 diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan dengan laporan oleh Ketua IAI Jakarta, Bapak Steve J. Manahampi. Melalui acara ini, terdapat beberapa keynote speaker yang akan menyampaikan pandangan mereka mengenai tema JAT kali ini, yaitu : Melembagakan Undang-Undang Bangunan Gedung Menuju Kota Layak Huni dan Berkelanjutan. Pembicara dalam keynote speech tersebut, diantaranya adalah Bapak Try Sutrisno (Wapres RI ke-6), Bapak Emil Salim (Mentri Kependudukan dan Lingkungan Hidup Periode 1983-1993), dan Bapak Gunawan Cahyono.

 Mereka berpendapat bahwa bangunan-bangunan yang ada di Indonesia masih belum memiliki identitas akan jati diri bangsa, masih banyak arsitek yang men-design bangunan seperti di luar negeri. Ada baiknya bila bangunan kita memiliki identitas terhadap lokasi daerah bangunan tersebut berada. Misalnya, bila suatu bangunan terletak di Minang, maka baiknya bangunan tersebut mencerminkan adanya identitas Minang. Bila perlu, mungkin sebaiknya diadakan peraturan pembangunan gedung, sehingga setiap bangunan memiliki jati diri bangsa, bukan hanya design yang terlihat bagus bila dilihat dari atas/langit.

​  Untuk menyimbolkan bahwa acara telah resmi dibuka, dilakukan pemukulan gendang yang dilakukan secara meriah. Kemudian acara dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada Kabupaten/Kota penyusun perda bangunan terbaik. Dan diakhiri dengan pemberiaan penghargaan dan souvenir kepada keynote speaker. Sebelum memasuki acara berikutnya, para peserta diberikan waktu untuk break sejenak. 

Gambar: Pembukaan simbolik dengan pemukulan gendang
(sumber: dok.pribadi)
Memasuki rangkaian acara JAT, TALK #1 yang dimulai pada pukul 11.00. Kali ini para pembicara datang dari berbagai latar belakang. Pembicara pertama adalah Bapak Ethan Kent, beliau termasuk salah satu pembicara yang tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang arsitektur. Dalam pemaparannya mengenai public place, dikatakan bahwa untuk membentuk satu tempat, baiknya kita memperhatikan perilaku masyarakat sekitar untuk dapat membentuk suatu komunitas. Diperlukan sebuah tempat untuk membentuk komunitas dan satu komunitas untuk membentuk tempat. Jangan sampai kita membentuk ruang publik yang nantinya justru akan membentuk masyarakat. Kita dapat membuat/mengadakan market untuk dapat membuat space yang mengundang masyarakat untuk datang sehingga terbentuk komunitas.
Gambar: Pemaparan materi oleh pembicara (kiri: Bapak Ethan Kent, kanan: Bapak Sibarani Sofyan)
(sumber: dok.pribadi)
Pembicara kedua adalah Bapak Sibarani Sofyan, beliau memaparkan mengenai kota dan regulasinya. Beliau juga menjelaskan relevansi Pancasila dengan desain bangunan. Relevansi pancasila yang dimaksud bukan semata-mata desain dengan logo garuda. Tetapi mengambil nilai-nilai yang ada dalam pancasila. Beliau juga menyatakan ada baiknya jika muka suatu bangsa diperuntukkan untuk orang (misal: pejalan kaki), tidak hanya untuk mobil. Sehingga akan baik bila ada trotoar di depan pintu masuk bangunan (dari jalan menuju bangunan). Beliau juga mengingatkan kebutuhan akan adanya ruang publik yang lebih baik, karena dengan adanya ruang publik yang lebih baik, maka dapat berdapak positif pada pembangunan kota.

Pembicara ketiga adalah Bapak Singgih Kartono, beliau memaparkan mengenai revitalisasi desa dan kota yang lebih baik. Beberapa pemikirannya sejalan dengan  apa yang dikatakan oleh Bapak Sibarani Sofyan, bahwa bila kita dapat memperbaiki desa menjadi lebih baik, maka dengan sendirinya kehidupan di kota juga menjadi lebih baik meski perbaikan pertama yang dilakukan adalah di desa. Bahkan, menurutnya lebih baik bila biaya-biaya yang dialokasikan di kota-kota besar untuk perkembangan yang kurang mendesak dapat digunakan untuk pembangunan di desa-desa sehingga desa-desa dapat berkembang dan dapat mencari penghasilan sendiri di desanya tanpa harus pergi merantau ke kota. Karena terkadang, penduduk desa yang kembali dari kota ke desa suka mengikuti trend di kota, sehingga merusak jati diri desa. Bila nanti desa mereka sudah berkembang, mungkin mereka tidak perlu pergi ke kota. (MDH)
Gambar: Foto bersama pemenang penghargaan Kabupaten/Kota penyusun perda bangunan terbaik dengan Ketua IAI Jakarta.
(sumber: dok.pribadi)
Categories
Uncategorized

Mahasiswa Arsitektur Jakarta: Workshop “Public Space Muara Angke”

Pada hari Sabtu, 4 Juli 2015, SKETSA berkesempatan untuk mengikuti Workshop “Public Space Muara Angke” yang berlokasi di bagian Atrium Universitas Mercu Buana dan diselenggarakan oleh Mahasiswa Arsitektur Jakarta. Acara ini diikuti oleh 17 universitas di Jakarta, beberapa diantaranya adalah Universitas Mercu Buana, Universitas Pancasila, Universitas Jayabaya, Universitas Bina Nusantara, dan Universitas Tarumanagara.
Gambar 1: Penjelasan singkat mengenai masalah dan alternatif untuk Muara Angke. 
(sumber: dok. SKETSA )
Acara dibuka oleh MC dan dilanjutkan dengan kata sambutan oleh Ketua MAJ, Belia Astoria. Acara yang berlangsung selama tiga setengah jam tersebut dimulai dengan penjelasan singkat oleh Nadia Amira mengenai masalah-masalah yang terjadi di Muara Angke, seperti banjir saat air laut pasang, kurangnya daerah penghijauan dan serapan  air, dan tidak adanya fasilitas umum untuk anak-anak. Sebagai mahasiswa arsitektur, mungkin kita dapat memberikan alternatif untuk masalah tersebut dengan membuat public space yang dapat digunakan sebagai tempat bermain anak dan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan penghijauan.
Kemudian, acara dilanjutkan dengan pembuatan maket public space Muara Angke oleh peserta workshop yang terbagi menjadi 6 kelompok. Tanpa membuang waktu, setiap kelompok segera mendiskusikan konsep untuk perancangan public space Muara Angke dan membuat maket sebagai media untuk dipresentasikan. 
Gambar 2: Peserta sedang mendiskusikan konsep untuk perancangan public space Muara Angke. (kiri)
Gambar 3: Peserta membuat maket sebagai media untuk dipresentasikan. (kanan)
(sumber: dok. SKETSA )
Setelah selesai, acara dilanjutkan dengan pemaparan hasil diskusi oleh setiap kelompok dan tanya jawab mengenai public space yang telah mereka rancang. Acara ditutup dengan foto perwakilan dari masing-masing kelompok dan acara berbuka puasa bersama. (MDH) 
Gambar 4: Pemaparan hasil diskusi salah satu kelompok. (kiri)
Gambar 5: Perwakilan oleh masing-masing kelompok dengan Ketua MAJ. (kanan)
(sumber: dok. SKETSA )
“Menurut saya, acara MAJ kemarin cukup membanggakan, dimana di dalam waktu yang singkat para peserta workshop dapat menyelesaikan tugas dengan baik. Kerjasama antar tim panitia juga sangat baik dalam mencari dana serta menyusun acara. Acara workshop kali ini merupakan lanjutan dari Diskusi Ilmiah “Kompleksitas Ruang Publik Muara Angke”. Hasil dari workshop kerjasama antar kampus akan dilanjutkan dengan pembuatan bangunan skala 1:1.”
– Fathimah Zahra, mahasiswa Universitas Tarumanagara.
Categories
Uncategorized

5 Bangunan Termahal di Dunia Saat Ini

http://properti.kompas.com/read/2015/12/30/193743521/Lima.Bangunan.Termahal.di.Dunia.Tahun.Ini
1. Abraj Al Bait, Abu Dhabi 
     Abraj Al Bait merupakan sebuah komplek pusat perbelanjaan yang dilengkapi dengan pusat pengamatan bulan, museum Islam, masjid, gedung parkir dan landasan helikopter. Abraj Al Bait ini memiliki tinggi 601 meter dan merupakan bangunan tertinggi ketiga di dunia. Pembangunan bangunan ini menggunakan struktur bebas berdiri dan merupakan struktur bebas berdiri tertinggi di dunia. Pembuatan komplek Abraj Al Bait ini merupakan tanggapan bertambahnya jamaah haji setiap tahunnya. Saudi Binladin Group merupakan kontraktor yang mengembangkan komplek ini dan menghabiskan biaya 15 milliar USD atau sekitar 211,1 triliun rupiah. Jumlah ini membuat bangunan ini termahal di dunia. 
http://properti.kompas.com/read/2015/12/30/193743521/Lima.Bangunan.Termahal.di.Dunia.Tahun.Ini
2. Marina Bay Sands, Singapura
     Marina Bay Sands merupakan bangunan termahal di Singapura dan memakan biaya sebesar 5,5 miliar USD atau sekitar 77,4 triliun rupiah. Bangunan ini memfasilitasi 2,561 kamar hotel, 2 teater yang besar, 7 restauran mewah, sebuah museum, arena ice skating dan atrium kasino terbesar di dunia dengan 500 meja dan 1,600 mesin slot. Marina Bay Sands sendiri mengambil konsep seperti sebuah kapal layar yang pada lantai paling atas terdapat sebuah infinity pool dengan pemandangan langit Singapura. Kolam ini juga berfungsi sebagai penguat dan penyeimbang 3 tower bangunan tersebut. Marina Bay Sands memiliki ketinggian 200 meter. 
     
3. Resort World Sentosa, Singapura
     Resort World Sentosa merupakan kompek resort mewah yang berada di Pulau Sentosa, Singapura. Komplek resort ini merupakan tempat pariwisata yang terdapat Universal Studio Park, Marine Life Park, Adventure Cove Water Park, dua kasino mewah, dan oceanarium terbesar di dunia. Mega proyek ni merupakan hasil pengembangan Genting Singapore yang dibuka pada tahun 2010 dan memakan biaya sebesar 4,93 miliar USD atau sekitar 69,3 triliun rupiah. 
http://properti.kompas.com/read/2015/12/30/193743521/Lima.Bangunan.Termahal.di.Dunia.Tahun.Ini
4. Emirates Palace, Abu Dhabi 
     Emirates Palace merupakan hotel mewah bintang 7 diAbu Dhabi. Hotel ini memiliki 394 kamar suite dan kamar tersebut dilengkapi furnitur ciri Arab untuk kenyamanan pengunjung. Arsitek Emirates Palace adalah John Elliot dari Inggris. Ia merancang bangunan mewah ini sehingga mendapat gelar hotel termewal di seluruh Arab. Biaya kontruksi hotel ini memakan biaya 3,9 miliar USD atau sekitar 54,8 triliun rupiah. 
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/1/19/The_Cosmopolitan_of_Las_Vegas.jpg
5. Cosmopolitan of Las Vegas, USA
     Cosmopolitan of Las Vegas merupakan hotel mewah dan juga tempat kasino mewah yang terdiri dari 2 tower tinggi di Las Vegas, Nevada. Bangunan ini memfasilitasi tempat kasino, restauran mewah seperti Blue Ribbon Sushi Bar & Grill, Costas Spiliadis Estiaotoria Milas, China Poblano dan The Henry and Jaleo. Cosmopolitan of Las Vegas ini merupakan properti The Blackstone Group dan pembuatan bangunan ini memakan biaya 3,9 miliar USD atau sekitar 54,8 triliun rupiah. 
Categories
Uncategorized

INI DIA METODE PERANCANGAN TERSEMBUNYI YANG DIPAKAI OLEH ARSITEK TERBAIK DI DUNIA

Ingin hasil perancangan kamu menjadi sesuatu yang out of the box? Ingin dapat mendesain seperti para arsitek terkenal? Pernahkah kamu berpikir bagaimana mereka bisa menciptakan bentuk yang tak terpikirkan sebelumnya?
 
Banyak orang kebingungan bagaimana caranya menghasilkan desain yang demikian. Berkali-kali mengulang desain dan memutar otak. namun belum juga menghasilkan karya yang istimewa. “Aduh, saya gak ngerti nih, ini salah, itu salah, gimana sih cara desainnya?” .Kalau kamu salah satu dari orang yang pernah berpkir demikian, berarti kamu telah membuka email yang sangat TEPAT!
 
Khusus untuk kamu,  Majalah SKETSA akan membeberkan salah satu metode perancangan yang benar benar spesial ini.
Dijamin setelah lihat video di bawah ini kalian akan punya design yang SPEKTAKULER.


​SELAMAT BERKARYA!