Categories
Uncategorized

Revitalisasi Bangunan Sang Mayor : Candra Naya di “Kutak-katik” lagi 

           Lahan yang berlokasi di Jl. Gajah Mada, Kelurahan Glodok, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, berada pada suatu kawasan “mixed use”, komersial dan residensial yang ramai. Apabila dilihat dari tapaknya sudah dirasakan adanya suatu keunikan, yaiu adanya bangunan bersejarah yang dilindungi oleh Undang-Undang Kepubakalaan yang biasa disebut “Gedung Candra Naya”. Gedung ini merupakan salah satu bangunan yang mewakili rentetan sejarah bangsa Indonesia, yang mempunyai bentuk bangunan cina.
          Kehadiran bangunan kuno Candra Naya yang bernilai historis tinggi ini merupakan hal yang paling utama dan memberikan karakter unik bagi tapak dan lingkungan sekitar, sehingga perencanaan dan realisasi proyek mengemban suatu misi yang sangat berharga. Dengan mengikuti perkembangan zaman, maka realisasi proyek ini akan menampilkan suatu bentuk pembaharuan dan penataan kembali kondisi eksisting tapak yang secara fungsi maupun fisik dinilai sudah tidak efisien lagi, namun sangat mempunyai nilai historis yang tinggi yang tiada duanya.
        Kehadiran proyek ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan penampilan tapak serta vitalitas lingkungan. Adapun pemberian fungsi baru pada tapak berupa : perbelanjaan, hotel, apartemen, dan fasilitasnya, disesuaikan dengan konteks lingkungan yang ada dan terutama berdasarkan pada konsep revitalisasi dan optimalisasi lahan. Bangunan-bangunan lama pada tapak diupayakan dipertahankan dan diberi fungsi baru. Sebagian yang sudah tidak memadai dibongkar namun kemudian dibangun kembali dengan fungsi yang disesuaikan dengan gedung-gedung baru yang sudah dipertimbangkan terhadap aspek-aspek fisik maupun lingkungan, terutama untuk mewadahi fungsi-fungsi baru pada tapak.
        Kondisi tapak terlihat lebih rendah daripada peil jalan Gajah Mada yang berada dimukanya. Diperkirakan mencapai 40 sampai 50 cm di bawah peil jalan. Pada sisi kiri kanan lahan, terdapat selokan yang dapat dimanfaatkan apabila terjadi pengaruh negatif dengan adanya perbedaan peil itu.

RUMAH SANG MAYOR
        Bangunan di Jalan Gajah Mada 188 dulunya dikenal dengan nama rumah Sang Mayor, dan sekarang lebih dikenal sebagai Gedung Candra  Naya. Merupakan sebuah bangunan rumah tinggal yang berlanggam Cina (merupakan satu-satunya peninggalan bangunan Cina yang terbesar dan terlengkap di Jakarta).
         Bangunan ini didirikan pada abad ke-19, sebagai rumah seorang mayor Cina (bernama Khouw Kim An), yang bertugas mengurusi kepentingan masyarakat Cina di Batavia pada zaman penjajahan Belanda dan merupakan salah satu pendiri Tiong Hoa Hwe Koan Jakarta tahun 1900. Bangunan tersebut pada tanggal 20 Januari 1946 disewa untuk kegiatan Sin Ming Hui (perkumpulan Sinar Baru), yang kemudian hari terkenal dengan sebutan Yayasan Candra Naya yang bergerak di bidang olahraga, poliklinik (dikemudian hari menjadi RS Sumber Waras), dan pendidikan (SD, SMP, SMA, dan melahirkan Universitas Tarumanagara).
         Jika kebanyakan rumah-rumah Cina di Jakarta adalah milik para pedagang (sehingga bentuknya sederhana), maka Gedung Candra Naya ini memiliki nilai lebih karena pemiliknya yang terdahulu adalah seorang tokoh masyarakat yang kaya dan terpandang sehingga bangunannya lebih besar dan berbeda bentuk dengan rumah-rumah cina kebanyakan. Hal ini ditandai dengan ujung atap yang mencuat  ke atas (seperti pada bangunan kelenteng) yang disebut Yan Wei Xing (bentuk atau gaya ekor burung walet), sementara rumah-rumah Cina kebanyakan atapnya mendekati datar yang disebut Ma Bei Xing (bentuk atau gaya punggung kuda).

        Bangunan Candra Naya tersebut mempunyai halaman luas serta bagian dalam dan luar bangunannya dihiasi dengan ornamen-ornamen yang rumit dan sangat indah.
      Adapun penataan ruang luarnya terlihat seperti rumah-rumah pembesar di masa lampau pada umumnya, yaitu pada bagian depan terdapat dua buah gardu jaga yang terletak di sudut kanan dan kiri, sedangkan jalan masuk dan keluarnya melewati kedua gardu tersebut (berbentuk huruf U terbalik). Bagian depan dan belakang rumah memiliki tanah yang cukup luas, pada taman belakang terdapat sebuah kolam yang dihiasi dengan bunga teratai, sehingga disebut sebagai kolam teratai. 
      Adapun tata ruangnya dibagi menjadi empat bagian yaitu : ruang umum untuk menerima tamu, ruang semi privat dimana tamu yang akrab dapat mengikuti upacara sembahyang, ruang pribadi sebagai tempat hunian bagi keluarga kemudian ruang service berupa dapur, ruang selir dan ruang anak.
      Ruang-ruang di dalam rumah yakni ruang penerima tamu, ruang sembahyang, courtyard utama dan ruang tamu ditata sepanjang satu sumbu utama. Sedangkan ruang service dan courtyard sisi ditata sepanjang satu sumbu juga, dimana sumbu ini sejajar dengan sumbu utama di kanan dan kirinya. Sehingga dihasilkan denah yang simetri. Ruang utama ditata memanjang, sedang ruang service ditata tegak lurus ruang utama.   

FUNGSI TAPAK
       Dilihat dari letaknya tapak ini mempunyai nilai potensi lahan yang rtinggi. Hal ini disebabkan karena lokasi yang strategis dengan aksesbilitas yang tinggi, prasarana yang lengkap dan berada di pusat kota, sehingga mengakibatkan harga tanah menjadi mahal. Disamping itu masih ada konstrain yang dihadapi pada tapak ini yaitu lahan yang berbentuk persegi panjang, tipis dan memanjang serta luas yang terbatas. Dengan luas lahan yang terbatas ini, diharapkan dapat memenui kebutuhan fungsi seoptimal mungkin. Melihat potensi-potensi di atas serta konstrain yang dihadapi, maka diputuskan akan membangun dan mengembangkan lahan ini dengan pemberian fungsi baru pada tapak yang berupa : perbelanjaan, hotel, apartemen dan fasilitasnya serta mengadakan revitalisasi terhadap bangunan Candra Naya (disesuaikan dengan konteks lingkungan yang ada dan terutama berlandaskan pada konsep revitalisasi dan optimasisasi lahan). Fungsi campuran komersial atau residensial merupakan fungsi yang dianggap paling acceptable dan profitable terhadap lingkungannya yang mempunyai prospek yang bagus. Dimana fungsi apartemen mempunyai return of investment cepat atau jangka pendek dan bersifat melayani fungsi-fungsi komersial atau bisnis lingkungan. Sedangkan fungsi hotel dan perbelanjaan mempunyai return of investment jangka panjang dan bersifat melayani fungsi residensial sekaligus komersial lingkungan. Dengan demikian kehadiran kompleks apartemen berikut kawasan komersial serta hotel akan dapat memacu mobilitas bisnis mereka, menjamin  efisiensi waktu karena jarak hunian ke pusat bisnis menjadi sangat dekat bagi mereka yang butuh tempat tinggal dekat dengan kegiatan bisnisnya. Selain itu di dalam tatanan fisik yang baru terdapat monumen sejarah atau kenangan tempo dulu yang sekaligus fungsional, sehingga image masyarakat khususnya terhadap sejarah bangunan Candra Naya dan umumnya sejarah kota Batavia akan tetap tersirat meskipun sudah diadakan perencanaan baru.

KONSEP DASAR DAN METODE PERENCANAAN
            Mengantisipasi kondisi dan situasi lahan yang telah disebutkan di atas, konsep dasar yang dicoba diterapkan pada perencanaan lahan tersebut adalah “REVITALISASI” yakni memberikan fungsi-fungsi baru pada tapak untuk meningkatkan potensi ekonomi tapak sekaligus mengembangkan kualitas dan visalitas lingkungan. Adapun konsep dasar tersebut dituangkan dalam dua metoda perencanaan yakni :

1.       Preservasi
Melestarikan bagian utama bangunan kuno Candra naya untuk mempertahankan sejarah bangunan dengan atmosfir tapak dan identitas kawasan yang kuat.

2.       Rekonstruksi
Membongkar dan membangun kembali sesuai dengan aslinya sebagian bangunan lama (sayap) untuk menjamin pelaksanaan konstruksi proyek

PERUNTUKKAN TAPAK DAN LINGKUNGAN
        Fungsi -fungsi baru yang diterapkan pada proyek ini merupakan fungsi campuran residensial, yakni perbelanjaan, hotel, dan apartemen. Hal ini sesuai dengan konteks lingkungan kota di sekitarnya yang menuntut peruntukkan lahan yang lebih majemuk (mixed use).
       Zona komersial (perbelanjaan dan hotel) ditempatkan pada bagian dengan tapak karena bersifat publik dan lebih representatif sedangkan zona residensial (apartemen) ditempatkan pada bagian depan tapak karena bersifat publik dan lebih representatif sedangkan zona residensial (apartemen) ditempatkan pada bagian belakang tapak untuk menjamin privacy dan ketenangan penghuninya.

TATANAN RUANG DAN MASSA BANGUNAN
        Konfigurasi bangunan pada tapak secara umum mengambil kemiripan pada tapak secara umum mengambil kemiripan tema dengan pola hunian etnis Cina (bangunan Candra Naya) yaitu bangunan umum berada di muka sedang bangunan hunian berada di belakang. Demikian pula urutan pengalaman ruangnya yakni setelah melalui pintu gerbang (entrance) dijumpai ruang terbuka (halaman) kemudian masuk ke dalam bangunan, dan seterusnya (antara massa dan ruang silih berganti).
            Pola hunian etnis Cina tersebut, dipadukan dengan konsep umum, arsitektur lainnya menjadi aplikasi sebagai berikut :

1.   Penerapan ruang terbuka yang terbentuk oleh massa bangunan yang membatasinya yakni :
·         Entry Plaza, terletak di bagian depan tapak khususnya untuk pedestrian dan taman dengan tujuan menarik mempergerakkan pengunjung di sepanjang shopping centre jl. Gajah Mada ke arah dalam tapak dan sekaligus sebagai wadah interaksi sosial. Atrium raksasapusat perbelanjaan yang menempatkan bangunan kuno Candra Naya menjadi Point Of Interest yang menarik disaksikan dari shopping corridor, hotel tower, apartment tower dan pedestrian plaza. Adapun bangunan kuno tersebut tampil sebagai figur yang memikat namun tetap mampu berinteraksi fungsional dengan sistem bangunan dan tapak keseluruhan.

Aplikasi dari tema desain tersebut adalah sebagai berikut :

a. Kontinuitas Visual yang kuat ke arah bangunan Candra Naya dengan cara “mengosongkan” bagian bawah bangunan baru yang terletak di sebelah depan dan kanan-kirinya semaksimal mungkin. Di sini bangunan kuno tersebut tampil sebagai pusat orientasi visual (vista).

b.  Kontras Visual yang kuat antara fasade bangunan baru (shopping centre) yang lugas dan “modern” sebagai background dari bangunan Candra Naya yang tampil kuno dan kaya akan detail. Di sini bangunan kuno tersebut tampil sebagai figur yang dominan terhadap lingkungan fisik di sekitarnya.

2.    Massa hotel merupakan “pintu gerbang” menuju ke bagian lahan yang lebih dalam lagi. Podium hot
el dan shopping centre (5 lantai) merupakan “additive massa” yang berfungsi menjaga skala manusia sekaligus membentuk entry plaza yang sangat kuat.

3.    Tiga buah massa besar (satu hotel tower dan apartemen tower) diletakkan berselang-seling dengan ruang terbuka pada satu garis sumbu dengan as bangunan Cnadra Naya yang memperkuat pola dan tahanan geometris tapak yang dimaksud.

4.    Ketinggian hotel tower dan apartemen tower tersebut benjenjang semakin tinggi ke arah belakang sehingga membentuk skyline yang menurun ke arah jalan utama (Jl. Gajah Mada)

SIRKULASI
        Pemisahan sirkulasi pejalan kaki dan kendaraan diusahakan semaksimal mungkin. Pejalan kaki memasuki lahan proyek melalui entry plaza yang besar dimana terdapat pula taman (mengantisipasi peruntukkan ruang terbuka hijau pada bagian depan persil tersebut, sesuai RBWK Kec. Taman Sari tahun 2005). Dan tata lansekap yang dapat dimanfaatkan untuk interaksi sosial. Selanjutnya arkade dan kanopi bangunan menaungi pejalan kaki menuju ke bagian dalam tapak dengan suasana “shopping street”
            Sirkulasi kendaraan terdapat di sisi kanan dan kiri tapak menuju ke lokasi penurunan penumpang (drop off) untuk selanjutnya masuk ke bangunan parkir. Sedangkan keluar masuk kendaraan service melalui pintu belakang lahan proyek. Keseluruhan sistem sirkulasi kendaraan adalah menciptakan jalur satu atau dua arah yang efisien, meniadakan persilangan jalur dan meratakan beban pintu masuk atau pintu keluar.

KESIMPULAN
     Dengan mengacu kepada keputusan pemerintah, kondisi lahan, serta melihat perkembangan zaman, maka revitalisasi gedung Candra Naya (yang merupakan bagian dari bangunan mixed use) merupakan satu langkah awal yang dirasa cukup tepat untuk penyelesaian suatu masalah bangunan bersejarah. Karena dengan kemajuan zaman tidak tepat lagi kalau bangunan bersejarah hanya sekedar diadikan “benda museum”, apalagi kalau diingat masyarakat kita belum begitu akrab dengan museum. Dengan menjadikan bangunan bersejarah menjadi bangunan fungsi baru yang disesuaikan dengan kondisi “sekarang” maka masyarakat akan tetap dapat merasakan kehadiran bangunan bersejarah tersebut sambil menikmati kegiatan yang ada di dalamnya. Dan bagi pihak Pemerintah Daerah juga tidak begitu kesulitan dalam hal pemeliharaan bangunan bersejarah tersebut sebab dengan fungsi baru, bangunan bersejarah diharapkan akan dapat memelihara diri sendiri.

                      

Picture

Ornamen atap Gedung Candra Naya

Categories
Uncategorized

“Space to Human Behavior” by Cosmas D. Gozali

Sudahkah Anda memperhatikan lingkungan di sekitar Anda? Sebagai seorang arsitek yang ruang kerjanya tidak luput dari alam, sudah menjadi tugasnya untuk menyadarkan masyarakat umum akan permasalahan alam yang semakin meningkat. Tidak hanya sebagai seorang arsitek tetapi sudah kodratnya kita sebagai seorang manusia untuk memperhatikan alam yang telah dianugerahkan kepada kita. Dewasa ini, banyak permasalahan yang berhubungan dengan alam seperti banjir, polusi dan tanah longsor yang semakin sering terjadi di sekitar kita.
Gambar 1: “Space to Human Behavior“merupakan buah pemikiran Cosmas D. Gozali mengenai hubungan alam dengan manusia. (sumber: dok. SKETSA)
Seorang arsitek muda, Cosmas D. Gozali mengajak kita untuk membuka mata  dalam melihat alam sekitar  melalui instalasi seninya pada acara CASA by Bravacasa 2015 di Ritz Carlton Pacific Place pada tanggal 9-12 Juli 2015. Pada acara tahunan Majalah Bravacasa tersebut, sang pendiri kantor konsultan arsitek Atelier Cosmas Gozali (ACG) ini kembali mempersembahkan sebuah instalasi yang mengagumkan berjudul Space to Human Behavior”.
Bertolak belakang dengan karya Beliau yang didominasi oleh warna putih, instalasi seni ini merupakan sebuah terowongan sepanjang 7-8 meter dengan dinding yang terdiri dari bambu-bambu berwarna merah terang. Hal tersebut melambangkan alam sekitar yang terluka – bleeding (istilah dari Cosmas D. Gozali). Lantai terowongan menggunakan bahan yang memantulkan cahaya sehingga menimbulkan kesan terowongan yang tak berujung. Selain itu, terdapat sensor pada terowongan yang berguna mengaktifkan lampu pada setiap segmen yang dilalui oleh pengunjung. Apabila kita berjalan menelusuri terowongan tersebut, kita harus menjaga keseimbangan kita. Jika tidak, dinding-dinding terowongan yang terdiri dari segmen-segmen tersebut akan berguncang. Hal itu mencerminkan perlakuan kita terhadap alam. Apabila kita berperilaku kasar, alam juga akan berperilaku kasar terhadap kita. Sebaliknya, apabila kita berperilaku ramah terhadap lingkungan, alam juga akan berperilaku ramah terhadap kita.
Gambar 2 : Besar harapan Cosmas D. Gozali agar dapat memperbaiki hubungan kita dengan alam
(sumber: dok. SKETSA)
Bagi Beliau, tidak ada kata terlambat untuk membuka mata masyarakat akan alam di sekitar kita. Beliau mengharapkan melalui instalasi interaktifnya yang juga menglobalisasikan lokalitas, kita semua akan memperlakukan alam di sekitar kita dengan lebih baik dan pantas. (A)
Categories
Uncategorized

Mahasiswa Arsitektur Jakarta: Diskusi Ilmiah “Kompleksitas Penataan Ruang Publik di Muara Angke”

Gambar 1. Foto bersama peserta, panitia, dan para pembicara. (sumber: dokumentasi SKETSA )
Pada hari Sabtu, 13 Juni 2015, SKETSA berkesempatan untuk menghadiri  sebuah Diskusi Ilmiah yang membahas “Kompleksitas Penataan Ruang Publik di Muara Angke” oleh Mahasiswa Arsitektur Jakarta. Kegiatan ini berlangsung di Asean Youth Center, Gedung Plaza Blok M, lantai 6. Peserta diskusi merupakan mahasiswa jurusan arsitektur dari berbagai universitas yakni, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Tarumanagara, Universitas Indraprasta, Institut Teknologi Indonesia, dan ISTN. 
Gambar 2. Sesi tanya jawab kepada Pak Baskoro dan Pak Rino. (sumber: dokumentasi SKETSA)
Acara diawali dengan beberapa kata sambutan dari Ketua MAJ, Belia Astoria dan Ketua Pelaksana, Achmad Ramzi Arighi Ghazali yang kemudian dilanjutkan dengan pemutaran film dan penjelasan materi oleh para ahli arsitektur dan lingkungan yakni, Dr. Ir. Rino Wicaksono MAUD, MURP, Ph. D, yang membahas mengenai “Kompleksitas Ruang Publik” dan Ir. Baskoro Tedjo, MSEB, Ph.D, yang membahas mengenai “Ironi Mental dan Perilaku Manusia Terhadap Lingkungan Binaan”, serta Charles de Vincent, S.Ars, M.T. sebagai moderator. Sebelum acara diskusi dimulai, sesi tanya jawab antar mahasiswa dan pembicara pun berlangsung dengan menarik. 
Gambar 3. Peserta saat mendiskusikan permasalahan yang ada di Muara Angke. (kiri) 
Gambar 4. Peserta saat mempresentasikan hasil diskusi kelompok. (kanan) 
(sumber: dokumentasi SKETSA)
Seluruh mahasiswa yang terbagi menjadi 4 kelompok, terlihat antusias saat mendiskusikan permasalahan lingkungan dan sosial di Muara Angke. Hasil diskusi pun membuahkan sebuah konsep penataan lingkungan yang dapat menjadi solusi akan permasalahan di wilayah tersebut dan dipresentasikan oleh setiap kelompok. Acara ditutup dengan menarik kesimpulan dari setiap konsep yang dipresentasikan dan doa bersama. (SE)
Categories
Uncategorized

“BOXEL” Temporary Summer Pavilion

BOXEL karya Henri Schweynoch dari University of Applied Science
(sumber: www.archdaily.com)

Arsitektur, dalam proses pembelajarannya sudah selayaknya mencakup aspek teori dan praktek. Itulah sebabnya, banyak universitas yang membuat program bagi para mahasiswa agar dapat terjun langsung dalam proses perwujudan ide dan rancangannya.
               Paviliun BOXEL karya Henri Schweynoch dari University of Applied Sciences di Detmold, Jerman menarik perhatian dunia. Desain kreatif yang tersusun atas 2.000 buah krat bir ini menyuguhkan sebuah ruang multifungsi untuk kegiatan presentasi, konser, maupun berbagai pesta di kampus.

               Rancangan paviliun BOXEL berawal dari mata kuliah Perancangan Digital yang dibawakan oleh Prof. Marco Hemmerling. Dalam mata kuliah Perancangan Digital, mahasiswa diminta untuk merancang paviliun musim panas. Paviliun dibuat dalam bentuk maket skala 1:1 dengan menggunakan perlengkapan perancangan digital. Paviliun BOXEL terpilih dan memenangkan kompetisi internal kelas perancangan digital pada akhir semester.
Rancangan pavilion BOXEL sebagai tugas mata kuliah perancangan digital
(sumber: www.archdaily.com)

               Bentuk paviliun BOXEL berupa kurva yang membentang dalam beberapa arah. Konstruksi sementara dirancang berdasarkan perangkat lunak parametrik untuk mengendalikan posisi dari krat bir tersebut. Perangkat lunak digunakan dalam analisa kemampuan struktural. Pada penerapannya, salah satu faktor yang membuat konstruksi semakin rumit adalah susunan krat bir kosong yang tidak ditumpuk, melainkan diatur secara bebas satu sama lainnya.

               Untuk menghasilkan bentuk kurva bebas yang dapat menahan beban tekan, sebuah sistem konstruksi sederahana dari bilah papan dan baut dipilih untuk pemasangan paviliun. Konstruksi ini membuat sambungan menjadi fleksibel dan tidak terlihat. Untuk itu, tidak kurang dari 2.000 krat bir, 20.000 buah bilah kayu, dan 30.000 baut diperlukan untuk pembangunan paviliun ini.

Rancangan pavilion BOXEL menggunakan 2000 krat bir
(sumber: www.archdaily.com)
               Kekuatan dan kekakuan struktur dibantu dengan bracing dan pondasi. Bracing ditambahkan pada bagian atas dari krat-krat tersebut untuk menciptakan kekakuan yang dibutuhkan oleh modul. Sementara itu, untuk memperkuat struktur, tiga baris kotak terbawah diisi dengan beton yang memiliki fungsi sebagai pondasi.

               Prof. Marco Hemmerling (pembimbing proyek) menjelaskan bahwa pada kasus yang direalisasikan, ada beberapa faktor yang seringkali tidak kita pikirkan dalam gambar perancangan. Ia juga mengatakan bahwa rancangan paviliun memiliki karakteristik yang berbeda bila dibandingkan dengan sebagian besar proyek lain di universitas.

                BOXEL didirikan dalam waktu satu minggu oleh para mahasiwa dan menghiasi pelataran parkir Universitas Detmold selama acara akhir semester dan kelas musim panas internasional. Kotak bir yang digunakan berasal dari produsen bir lokal, yaitu Detmolder Pilsener, yang nantinya akan didaur ulang kembali setelah paviliun dibongkar.
Eksplorasi material bekas menjadi karya Arsitektur yang brilian
(sumber: www.archdaily.com)

               BOXEL bukanlah satu-satunya paviliun yang dibuat dari material bekas dan dapat didaur ulang. Sebelumnya sudah terdapat beberapa paviliun karya mahasiswa lain, seperti Paviliun Be Paletto” dari Arhus School of Architecture yang dibangun dengan handling pallets, serta paviliun dari strip plywood oleh Stuttgart University. Adanya kehadiran karya-karya seperti ini merupakan suatu terobosan yang kreatif dalam menghasilkan suatu produk arsitektur yang berkualitas dan berguna dalam suatu proses pembelajaran ruang. (disunting dari Majalah SKETSA Edisi 26: Your Space; Editor: NDP)