Sebelum memasuki kegiatan sharing oleh Sigit Kusumawijaya, peserta melakukan ice breaking dengan memperkenalkan diri, asal universitas dan menceritakan pengalaman terburuk dalam kehidupan.
Sumber: Dok. SKETSA
Isu sosial berkaitan dengan jumlah penduduk di Indonesia merupakan salah satu pokok permasalahan. Pertambahan penduduk yang tidak terkendali, tingkat kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, kontak sosial sekarang ini juga ikut menurun seiring dengan perkembangan zaman.
Isu ekonomi berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi yang belum merata hanya terjadi di kota metropolitan dan kota besar. Selain itu, nilai lahan yang semakin tinggi, sumber daya alam terbatas, dan modernisasi yang mengarah pada homogenisasi wajah kota (seperti misalnya, banyaknya mall di Jakarta, namun mall-mall tersebut sebenarnya menyediakan hal yang sama, itulah yang dimaksud dengan homogenisasi).
Isu lingkungan, daya dukung lingkungan yang merosot, kemacetan lalu lintas, merosotnya kualitas dan kuantitas ruang terbuka hijau. Isu ini perlu diperhatikan dan disadari sehingga (kita) mampu melakukan respon yang tepat khususnya sebagai mahasiswa arsitektur.
Dalam pemaparan “The Livable City”, juga terdapat pembahasan akan minimnya ruang terbuka hijau di Jakarta. Kali ini, Sigit Kusumawijaya membahas wilayah “peri urban” yaitu wilayah yang terletak di antara dua wilayah yang sangat berbeda kondisi lingkungannya memiliki kenampakan pedesaan dan perkotaan. Sejak tahun 2000, kota-kota besar mulai kehilangan ruang hijau yang beralih fungsi akibat proses pembangunan dan komersialisasi. Hal ini diperparah dengan isu urbanisasi dimana warga desa tergiur untuk ke kota dan berhenti bercocok tanam. Harga kebutuhan pangan meningkat hingga Indonesia harus mengimpor kebutuhan pokok dan berujung pada “global food crisis”
Sumber: http://www.hrcindonesia.org/#!peri-urban-bagian-dari-wajah-kota-masa-/chd8
Konsep Livable city/ kota layak huni juga terkait dengan konsep green city yang memiliki elemen-elemen seperti: green planning and design, green open space, green waste, green transportation, green water, green energy, green building, green community. Konsep ini perlu didukung pula dengan sikap yang tepat dalam mewujudkan kota layak huni seperti pemilihan material dan konstruksi bangunan yang lebih ramah yang berkaitan erat dengan isu ekonomi, sosial dan lingkungan
“Kita baiknya tidak terlalu memikirkan mahalnya biaya pembuatan tersebut, kita seharusnya lebih memikirkan adanya kemungkinan biaya perawatan yang lebih mahal bila kita memasang instalasi yang lebih murah. Bila kita memasang instalasi yang lebih mahal, biaya perawatannya bisa menjadi lebih murah,” ujar Sigit Kusumawijaya yang menyelesaokan studi urban di TU Delft.
Sebuah kota dapat dikatakan sebagai sustainable city bila ia memiliki ciri berikut: compact development, high density living, transit oriented, ecology in the city, dan ecofriendly architecture
Sumber: Dok. SKETSA









