Categories
Uncategorized

Program Profesi Arsitektur untuk Pendidikan Pascasarjana Arsitek Indonesia

Gambar 1. 
Sumber:
osia.wordpress.com 
Arsitek merupakan suatu profesi yang tidak hanya membutuhkan keterampilan merancang dan membangun sebuah bangunan yang indah dan kokoh, tetapi juga harus mempertimbangkan  beberapa ruang lingkup lainnya seperti interior ruangan, kompleks bangunan, hingga tata kota, dan regional. Selain itu arsitek juga dituntut untuk memecahkan berbagai permasalahan beserta dampak yang sewaktu-waktu dapat terjadi dalam suatu bangunan, atau lingkungan buatan yang  memerhatikan berbagai aspek perencanaan yang baik dan matang.

Agar dapat merancang sebuah bangunan secara baik, maka pendidikan arsitektur merupakan hal yang penting bagi seorang calon arsitek  agar  memiliki keahlian dan kemampuan untuk  dapat merancang sebuah bangunan  dengansecara baik. Namun karena sistem pendidikan di Indonesia hanya menggunakan 144 Satuan Kredit Semester (SKS), pendidikan arsitektur  hanya dapat dijalankan selama empat tahun sementara standar pendidikan Teknik  termasuk pendidikan arsitektur di dunia pada umumnya adalah selama   lima tahun.

Untuk menutupi kekurangan satu tahun waktu belajar tersebut maka pemerintah  beserta Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) memberlakukan Pendidikan Profesi Arsitektur (PPAr) sejak September 2016 yang wajib ditempuh oleh para sarjana Arsitektur di seluruh Indonesia untuk mengasah tingkat keahlian dan kemampuan lebih lanjut. Menurut Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) , Prof. Ir. Priyo Suprobo, MS., Ph.D.. , banyak sarjana teknik termasuk sarjana arsitektur yang belum memiliki keahlian yang mumpuni  dalam merancang. Setelah mengikuti program PPAr ini, diharapkan sarjana arsitek dapat mengasah kemampuan arsitekturnya menjadi lebih tinggi dan terampil.

Mantan ketua IAI pusat, Endy Sugiono, bahwa dengan diberlakukannya PPAr, selain kemampuan meningkat, para arsitek Indonesia  dapat bersaing dengan arsitek lulusan luar negeri di dunia kerja saat ini, dan arsitek adalah salah satu dari delapan profesi prioritas yang bersaing di kancah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

PPAr sendiri ditempuh dalam satu tahun (dua semester) dengan enam mata kuliah seperti: dua mata kuliah Studio Perancangan, Teori Arsitektur, Etika Arsitektur, Architectural Practice, serta Desain dan Teknologi. Untuk saat ini hanya universitas yang termasuk Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) yang diperbolehkan mengadakan PPAr, antara lain: Universitas Indonesia (UI) di Depok, Institut Teknologi Bandung (ITB) di Bandung, dan Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta. Walaupun hanya PTN-BH yang diperbolehkan membuka PPAr, PTN-BH bisa menerima sarjana arsitek beberapa universitas di Indonesia dan beberapa universitas berakreditasi  A di Indonesia sudah mulai mewajibkan lulusannya untuk mengikuti PPAr di berbagai PTN-BH di Indonesia.
            
Kemudian lulusan PPAr akan menyandang gelar kandidat arsitektur dan dapat menjalani program magang selama dua tahun di berbagai biro arsitektur. Lalu para sarjana arsitektur diperbolehkan mengikuti ujian anggota IAI dan diakui sebagai seorang arsitek yang dapat bersaing dengan arsitek lainnya di kancah internasional.

Categories
Uncategorized

International Seminarch Universitas Bina Nusantara

​“Open Minded Architect Leads to Smart Living Development

Gambar 1. Suasana ruang pendaftaran sebelum seminar dimulai
Sumber : dok. SKETSA

Setiap pembangunan merupakan suatu pembaharuan atau perubahan lingkungan yang berhubungan dengan arsitektur dan kehidupan manusia. Di tengah maraknya profesi arsitek, semakin banyak masyarakat yang beranggapan bahwa arsitek hanya asal dalam membangun dan mendesain bangunan, serta tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Untuk itu, Himpunan Mahasiswa Arsitektur (HIMARS) Universitas Bina Nusantara mengadakan acara International Seminarch dengan tema “Open Minded Architect Lead to Smart Living Development” dimana seorang arsitek yang memiliki pandangan luas terhadap environment dan human behaviour, akan mempengaruhi perkembangan desain yang berkelanjutan, efisien, dan inovatif.
Gambar 2. Karya tugas akhir mahasiswa arsitektur Universitas Bina Nusantara
Sumber : dok. SKETSA

Salah satu acara tahunan terbesar Internal HIMARS ini diadakan pada Sabtu (16/09) di Auditorium lt. 4 Kampus Anggrek, Universitas Bina Nusantara. Dr. Tan Loke Mun dari DrTanLM Architect Malaysia, Muhammad Egha dari Delution Architect Indonesia, dan Nguyen Hoang Manh dari MIA Design Studio Vietnam adalah pembicara-pembicara pada seminar yang  dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswi Jurusan Arsitektur dari dalam maupun luar Universitas Bina Nusantara.

Sebelum memasuki ruangan seminar, peserta disuguhkan instalasi photobooth dan pameran karya-karya tugas akhir mahasiswa arsitektur Universitas Bina Nusantara pada bagian depan ruangan. Pembukaan seminar diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, serta kata sambutan dari ketua jurusan, ketua pelaksana, serta ketua HIMARS.

Gambar 3. Sesi pertama yang dibawakan oleh Dr. Tan Loke Mun
Sumber : dok. SKETSA

​Selanjutnya, seminar diawali oleh Dr. Tan Loke Mun (Sesi I) dengan judul “Big to Small” yang membahas permasalahan air dan shelter. Isu tersebut akan semakin menjadi perhatian dalam beberapa tahun ke depan dikarenakan  gencarnya pembangunan. Pendorong lainnya adalah kepadatan penduduk yang juga semakin meningkat. Oleh karena itu melalui karya-karyanya, Beliau ingin menyampaikan bahwa kita tidak harus selalu mendesain suatu ruang yang baru, kita bisa mulai memperbaiki bangunan-bangunan yang sudah ada dalam menyikapi masalah shelter itu. 
Gambar 4. Sesi kedua yang dibawakan oleh Muhammad Egha
Sumber : dok. SKETSA

Sesi II yang dibawakan oleh Muhammad Egha menyoroti bangunan rancangan Beliau yang bertujuan untuk memberi solusi terhadap lahan sempit dan kondisi ekonomi di Jakarta yang diterapkan pada bangunan Splow House. Karya Beliau lainnya yang dibahas adalah sebuah bangunan unik berkonsep dirigen dengan interior yang simple dari kayu dan bata tanpa finishing, serta bangunan politik yang merubah pemikiran masyarakat melalui open office yang juga dapat dijadikan public space.
Gambar 5. Sesi ketiga yang dibawakan oleh Nguyen Hoang Manh
Sumber : dok. SKETSA

Pembicara terakhir, Nguyen Hoang Manh, membawa sesi “Inside-out, Ouside-in” yang membedah karya-karya Beliau yang selalu mengutamakan alam dalam desain, karena kitalah yang mendesain di alam itu sendiri. Desain harus sesederhana mungkin agar manusia bisa merasakan sebuah pengalaman dan suasana yang nyaman dari alam. Inspirasi beliau sebagian besar dari rumah-rumah di Bali yang memegang kebudayaan dan menjaga alam. Menurut Beliau, apa yang didesain secara bagus dari dalam walau luarnya nampak sederhana, keindahannya pasti akan tetap terpancarkan hingga ke luar.
Gambar 6. Foto bersama pembicara, panitia, dan jurusan
Sumber : dok. SKETSA

“Persiapan acara ini sudah dimulai dari Bulan Januari untuk mencari panitia, tema, proposal, tempat, dan pada Bulan September semua persiapan sudah selesai,” ujar Dian selaku project manager dari acara International Seminarch 2017. Terpilihnya ketiga pembicara tersebut berdasarkan hal berikut: Dr. Tan Loke Mun sangat mengerti bagaimana cara mengaplikasikan material-material yang dapat digunakan kembali menjadi fasad seperti sun shading, Nguyen Hoang Manh ahli dalam menyatukan fungsi dan desain agar dapat berkolaborasi baik dengan alam, sedangkan Muhammad Egha mendapat penghargaan internasional sebagai arsitek nusantara yang dapat berbagi pengalaman bagaimana Beliau menjadi open minded architect di kalangan mahasiswa dan arsitek.

Pada seminar ini, kita sebagai arsitek dan calon arsitek dituntut memiliki pikiran terbuka dan kepedulian terhadap lingkungan untuk mendesain suatu bangunan dengan pertimbangan yang matang sehingga memiliki bermanfaat bagi masyarakat sekitar dan kontekstual dengan lingkungan. Selain itu, kita juga memiliki misi untuk membantu masyarakat awam mengerti bagaimana proses seorang arsitek mendesain, serta apa fungsi dan tujuan dalam mendesain. (A)
Categories
Uncategorized

INOVASI HIJAU COBOGO

Pembahasan tentang arsitektur hijau selalu berkaitan erat dengan aspek lingkungan hidup. Arsitektur hijau, dengan didasari prinsip-prinsip ekologis dan konservasi lingkungan, memproduksi suatu desain bangunan yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan manusia sekaligus menjamin keberlanjutan lingkungan hidup di sekitarnya. Demi tercapainya visi ini, setiap tahapan dan detail perancangan harus diperhitungkan dan diolah dengan seksama. Salah satunya adalah material bangunan, dan batu bata cobogo merupakan contoh terbaiknya.
Batu bata cobogo pertama kali dipantenkan pada tahun 1929 oleh 3 orang insinyur asal  Brazil: Amadeu Oliveira Coimbra, Ernest August Boeckmann, dan Antonio de Gois. Berbeda dari kebanyakan batu bata yang beredar di pasaran, bata cobogo memiliki struktur berongga yang mampu menciptakan ventilasi dan pencahayaan alami. Desain bata cobogo ini terinspirasi dari bentukan bata mozarabic khas Spanyol dan Afrika Utara.

 Gambar 1: Batu bata cobogo sebagai penutup balkon di Rio de Janeiro
Sumber : Eat Rio
​Sejak penemuannya pada tahun 1929, cobogo telah dipakai hampir di setiap bangunan yang ada di Brazil. Polanya yang sangat beragam dan mudah disesuaikan (customized) menarik banyak arsitek lokal untuk menerapkannya dalam desain-desain mereka. Tak ayal, cobogo pun beranjak menjadi elemen khas dalam arsitektur modern Brazil.
Gambar 2: Kios São Paulo Aesop oleh the Campana Brothers
Sumber : Dezeen
Struktur cobogo yang berlubang memungkinkan hembusan angin alami masuk ke dalam bangunan dan sinar matahari dapat menerangi isi ruangan dengan intensitas cahaya yang cukup. Dua faktor ini berkontribusi mengurangi penggunaan AC dan lampu dalam ruangan, dan ikut mengurangi emisi karbon yang ditimbulkannya.

​Bahan baku cobogo memadukan tanah liat dengan sisa-sisa keramik yang didaur ulang. Bahan keramik digunakan untuk memperkeras tekstur bata yang dihasilkan, menjadikannya lebih tahan lama. Selain itu, material ini pun bisa diolah kembali untuk pencetakan bata-bata baru.
​Dua keunggulan ini meyakinkan sekali lagi akan predikat “hijau” yang disandangkan pada material cobogo. Cobogo pun menjadi pengingat bahwa arsitektur hijau tak melulu berandai-andai tentang konsep bangunan muktahir dengan biaya tinggi. Arsitektur hijau adalah tentang efektivitas hubungan manusia-alam, bahkan lewat hal-hal kecil sekalipun.
Gambar 3: Interior sebuah ruangan yang memakai material cobogo.
Sumber : HomeDSGN

Referensi: