Categories
Uncategorized

​Diskusi Beyondaries di Acara Anabata Talk Series#1

Anabata talk series #1 adalah acara yang diadakan oleh oleh Estica International pada tanggal 24 Agustus 2019 di Titan Center, Bintaro. Terdapat dua event pada acara ini yakni seminar dan pameran audio visual E-4.0 dengan mengangkat tema Beyondaries, yang menjelaskan bagaimana seorang arsitek menyelesaikan masalah pada batasan-batasan yang ada di setiap proyek. 
 
​Seminar dimulai pada pukul 11.00 siang hingga 6 malam yang dipresentasikan oleh tiga arsitek terkenal yakni Paulus Setyabudi (Paulus Setyabudi Architects), Andrew Maynard (Austine Maynard Architect), dan Dong gong (Vector Architect).
 
Picture

Gambar 1. Jumpa pres dengan pembicara Paulus Setyabudi (Sumber: dokumentasi SKETSA)

Paulus setyabudi menyatakan bahwa “Proses lebih indah dari hasil akhir” karena dalam mencapai hasil yang baik diperlukan proses, menurutnya beyondaries adalah bagaimana cara kita mendobrak tipologi yang ada dan menciptakan sesuatu yang baru.

Picture

Gambar 2. Andrew Maynard menyatakan pendapatnya mengenai beyondaries (Sumber: dokumentasi SKETSA)

​Andrew Maynard menyatakan bahwa “I like boundaries, I like constrain and i think a good designer is somebody that fight those constraint and find object detail”. Arsitek sebagai seorang perancang selalu berhadapan dengan masalah. Menurutnya hal tersebut penting karena dalam mendesain dibutuhkan sebuah batasan permasalahan, tanpa adanya batasan maka akan sulit untuk menciptakan solusi dalam desain karena para arsitek adalah problem solver.
Picture

Gambar 3. Jumpa pres dengan pembicara Dong Gong (Sumber: dokumentasi SKETSA)

Dong Gong menyatakan beyondaries dapat diinterpretasikan dari berbagai sudut pandang. “I don’t think boundaries is something wrong or negative…Boundaries is a part of humanity and we need that” tidak setiap batasan itu adalah hal buruk, karena setiap orang memerlukan batasan untuk mendapat privasi dan keamanan. Ia juga berpendapat bahwa kehidupan sosial kita semakin terbuka, sehingga cross culture dan juga cross boundaries menjadi penyemangat kita untuk saling berinteraksi antar negara dalam membentuk peradaban yang lebih baik untuk dunia. 
 
Selain itu terdapat pameran audio visual di lokasi yang sama pada pukul 09.00 hingga pukul 16.15 WIB. Terdapat lima karya biro arsitek indonesia yang berusia di bawah 40 tahun, yakni Wiyoga Nurdiansyah Architects, MNTS, Rumah Arsitek Studio, Ayya Architects, dan Soba Studia. Mereka mempresentasikan proyeknya dan menunjukan cara menanggapi batasan dari proyek tersebut hanya melalui proyektor dan speaker.
Categories
Uncategorized

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!

Categories
Uncategorized

ALFA-X: Toko Serba Ada Untuk Millenial

​Alfamart ingin melebarkan pasarnya kepada kaum milenial tanpa menghilangkan fungsi awal sebagai toko serba ada, sehingga PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk selaku pemilik Alfamart ingin menciptakan sebuah konsep baru yang bernama Alfa-X. Dalam mencapai hal tersebut, diadakan sayembara yang terbuka bagi mahasiwa arsitektur aktif dari seluruh Indonesia dengan kriteria desain industrial, high-tech, instagramable, millenials dan low-medium budget.

Proses Sayembara

​ Sayembara digelar mulai dari awal pendaftaran pada tanggal 1 hingga 30 April 2019, lalu peserta memiliki waktu hingga satu setengah bulan sampai batas pengumpulan karya pada 15 Mei 2019. Acara penutupan Gelar Karya dilaksanakan pada tanggal 23 hingga 24 Mei 2019 di Alfa Tower Tangerang, mengundang 5 tim finalis dari Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada, Universitas Sumatera Utara, Universitas Negeri Semarang dan Universitas Tarumanagara. Acara penutupan terdiri dari presentasi karya sayembara para finalis dan dilanjutkan dengan penjurian untuk menentukan pemenang.

Setelah diadakannya penjurian, daftar pemenang adalah sebagai berikut:
· Juara I : Edward Jospehta Doli, Andre Prianggoro dan Silviana (Universitas Sumatera Utara)
· Juara II : Arie Pandi Pratama (Universitas Gadjah Mada)
· Juara III : Marcellus Rafi, Yabez Koernia dan Steven (Universitas Tarumanagara)
· Juara IV : Nadia Salsabila dan Ratri Sekar Wening (Universitas Islam Indonesia Jogjakarta). 
· Juara V : Putri Utami, Unsani Lutfiana dan Eka Dyah Rachawati (Universitas Negeri Semarang).

Pemenang pertama: Designed For Millennials, Fit For Everyone

Berangkat dari kebutuhan milenial yang fleksibel atau mudah beradaptasi dan penuh dengan ide, desain diharapkan dapat ‘menampung’ kebutuhan mereka seperti bersosialisasi dan multi-tasking. Maka terdapat fasilitas seperti toko serba ada, kafe dan ruang bekerja 24 jam agar menciptakan ruang positif pada bagi kaum milenial. 
​Gambar 4. Eksterior bangunan. (Sumber: dokumentasi peserta sayembara)
​Massa memiliki bentuk dasar persegi panjang, dibuat secara efisien dalam segi biaya dan durasi pembangunan. Bagian dalam massa menggunakan split level dan skylight sehingga permainan ruang dan energi menjadi lebih efisien. Fasad menggunakan shading alumunium warna hitam dan polikarbonat warna putih yang disusun seperti huruf X, menunjukan konsep high-tech. Struktur bangunan menggunakan sistem grid untuk mengurangi jumlah kolom dan balok, mengingat fungsi bangunan sebagai komersil yang memerlukan efisiensi dalam luasan ruang, biaya dan proses konstruksi. 

​Gambar 5-7. Suasana toko serba ada, area co-working dan duduk. (Sumber: dokumentasi peserta sayembara)

​Alfa-X S.Parman

​Gambar 8-9. Suasana Alfa-X dengan fasilitas makanan serta band untuk berbagai kegiatan. (Sumber: Dokumentasi SKETSA/Jihan Nurmaulida)
​Alfa-X S. Parman berlokasi di samping Universitas Tarumanagara merupakan hasil realisasi sayembara dari  ke-lima finalis yang diolah oleh pihak Alfamart dengan beberapa penyesuaian lapangan tanpa menghilangkan gagasan utama pemenang sehingga gerai ini ramai dikunjungi mahasiswa untuk nongkrong, bekerja  ataupun mengadakan beberapa kegiatan dari himpunan mahasiswa.  
​Gambar 10. Desain dominan monokrom menampilkan kesan industrial. (sumber: Dokumentasi SKETSA/Jihan Nurmaulida)

PANEL FINALIS SAYEMBARA
JUARA II – Universitas Gadjah Mada, Arie Pandi Pratama

JUARA III – Universitas Tarumanagara, Marcellus Rafi, Yabez Koernia dan Steven

JUARA IV – Universitas Islam Indonesia Jogjakarta, Nadia Salsabila dan Ratri Sekar Wening

JUARA V – Universitas Negeri Semarang, Putri Utami, Unsani Lutfiana dan Eka Dyah Rachawati.

Categories
Uncategorized

DILEMA SINGAPURA DALAM  PEMBERLAKUAN PERATURAN  PEMERATAAN ETNIS

Gambar 1. Bermacam-macam etnis yang ada di Singapura menjadikannya negara yang multikultural (Sumber: https://www.99.co/blog/singapore/ethnic-integration-policy/)
Singapura memiliki beragam ras dan etnis yang berbeda-beda, dan terdapat tiga ras mayoritas, yakni Melayu, Tiongkok, dan India yang memiliki kebudayaan dan tradisi berbeda. Hal ini dapat mengakibatkan terbentuknya pengelompokan antar etnis dan menciptakan ketidakmerataan ras di wilayah pemukiman. Ketidakmerataan ras merupakan masalah nyata. Sebagai contoh, perumahan di daerah Bedok dan Tampines, dimana lebih dari 30 persen penghuninya merupakan etnis Melayu. Sedangkan pada perumahan di daerah Hougang, sekitar 90 persen penghuninya merupakan etnis Tiongkok. Fenomena ini terjadi karena penduduk cenderung memilih untuk menetap di lingkungan yang etnis mayoritasnya sama seperti mereka.

Maka, pemerintah membuat peraturan Ethnic Integration Policy atau EIP sejak tahun 1989 silam, sebagai pemerataan etnis pada hunian pemukiman seperti di Housing and Development Board (HDB) atau perumahan yang disubsidi oleh pemerintah (public housing), terutama rusun untuk mencegah ketidakmerataan dan mempertahankan keseimbangan etnis untuk menumbuhkan kohesi sosial.

Gambar 2. Presentase limit maksimal tiap etnis untuk menghuni sebuah unit 
(Sumber: https://soc3apcblog.wordpress.com/urban-shelter-3/)

Pembatasan EIP setiap lingkungan atau wilayah agar memiliki presentase etnis yang merata dan sukses dalam mencegah terbentuknya pengelompokan masyarakat berdasarkan ras. Namun peraturan ini juga memunculkan beberapa permasalahan baru seperti:

Banyaknya unit yang kosong akibat tidak terjual.                                                                       
Perbedaan pendapatan rata-rata dari setiap etnis berpengaruh pada kapabilitas mereka untuk membeli sebuah properti. Misalnya, sebuah unit hunian pada daerah kumuh seperti Woodlands masih memiliki kuota etnis Tionghoa yang belum terisi, karena mayoritas etnis Tionghoa di Singapura memiliki kondisi finansial yang cukup baik dan memilih untuk tinggal di daerah yang lebih elit seperti Bedok yang harga unitnya lebih mahal, dan menyebabkan kuota etnis Melayu yang mayoritas memiliki tingkat perekonomian menegah kebawah tidak terpenuhi. Hal ini semakin memperparah permasalahan kekurangan lahan di Singapura dan mengurangi kesempatan warganya untuk memiliki tempat tinggal yang layak.

Perbedaan harga pada sebuah properti yang sama
Maka untuk mengatasi hal tersebut, harga properti memiliki perbedaan harga berdasarkan etnis dari calon pembeli. Kepemilikan ras Tiongkok 5-8% lebih mahal daripada ras Melayu atau India yang 3-4% lebih murah dari harga jual rata-rata. Namun hal ini malah menyebabkan ketidakadilan dan dapat memperparah ketimpangan pendapatan rasial.

Ketidaksesuain dengan bertambahnya ras campuran
Seseorang yang memiliki orangtua dengan ras yang berbeda wajib untuk mendaftarkan diri sebagai double-barelled race atau ras ganda, misalnya seseorang dengan ayah etnis Tionghoa dan ibu etnis Melayu dapat dikategorikan sebagai etnis Melayu-Tionghoa atau Tionghoa-Melayu.

Pada regulasi EIP, hanya komponen ras pertama dari ras ganda yang dapat digunakan. Misalnya seorang keturunan Tionghoa-Melayu, maka ia hanya dapat memenuhi kuota yang disediakan untuk ras Tionghoa, meskipun Ia juga campuran etnis Melayu. Menurut data sensus penduduk Singapura, sekitar 1 dari 5 dari pernikahan di Singapura pada tahun 2015 merupakan perkawinan antar ras. 

Gambar 3. Penerapan regulasi EIP yang kurang efisien diragukan dalam mengatur pemerataan etnis (Sumber: http://eresources.nlb.gov.sg/history/events/d8fea656-d86e-4658-9509-974225951607)