Categories
Uncategorized

FOR-REST HOUSE :                                                                                            Rumah ‘healing’ yang meningkatkan produktivitas dan kesehatan mental

​Nama Proyek     : For-Rest House
Lokasi                   : Jalan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Indonesia
Kompetisi           : WFH Workshop A dream house that respond to pandemic situation
Penyelenggara   : Arcasia Committee on Young Architect – Yogyakarta Young Architect Forum 2020
Status                  : Competition Entry
Tim Desain          : Eka Sidangoli, Adrian Lazaro, dan Laurentius Dwiki Adi N
Institusi               : Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Gambar 1. Perspektif eksterior For-Rest House (Sumber: Dokumentasi Peserta Sayembara)
Latar Belakang
Di tengah pandemi COVID-19 saat ini, orang-orang di seluruh dunia dipaksa untuk tinggal dan melakukan kegiatan dari rumah dengan tujuan memutus penyebaran virus. Tantangan baru ini mendorong munculnya kebutuhan bagi setiap orang untuk menerapkan pola hidup sehat dan produktif di rumah.
Namun pada kenyataanya, tantangan ini justru memiliki dampak negatif yang kuat terkait dengan mental dan kesehatan manusia. Penyebabnya antara lain ketidaksiapan masyarakat menghadapi COVID-19 dan media yang tidak hentinya memberikan informasi negatif mengenai COVID-19, sehingga menimbulkan kecemasan pada masyarakat. Kecemasan ini merambat ke beberapa aspek kehidupan seperti ekonomi, kesehatan, pangan, dan produktivitas. Jika hal ini tidak ditangani dengan tepat, dikhawatirkan akan menjadi ‘virus kesehatan’ yang baru di tengah maraknya pandemi COVID-19.
 
Lokasi
Lokasi yang dipilih berada di Provinsi DKI Jakarta, sebagai provinsi dengan kasus COVID-19 terbanyak di Indonesia, yaitu sebanyak 3.112 kasus positif dengan kematian sejumlah 297 orang berdasarkan data pada tanggal 20 April 2020 dari Provinsi DKI Jakarta.
Gambar 2. Lokasi proyek, Jl. Mampang Prapatan, Jakarta Selatan Indonesia. (Sumber: Google maps)
Sasaran Pengguna
1 Keluarga besar :
– Kakek-Nenek (manula)
– Bapak-Ibu (pekerja)
– Anak 2 (pelajar)
 
Konsep For-Rest House
Berangkat dari isu COVID-19, konsep For-Rest House hadir sebagai solusi kesehatan mental dan psikis masyarakat melalui pendekatan alam berupa suasana hutan yang memicu perasaan positif untuk produktivitas pengguna. Dari segi fungsi, For-Rest House beradaptasi dengan perilaku manusia yang cenderung jenuh dengan keadaan sebagai rumah healing.
For-Rest House berperan untuk menghadirkan suasana asri alam dalam hunian ditengah kota. Dengan demikian, masyarakat yang biasanya sibuk sepanjang hari dapat beristirahat di rumah dengan suasana alam yang kental untuk membantu meningkatkan produktivitas di tengah Pandemi COVID-19.
Beberapa ruang yang menghadirkan konsep ini meliputi ruang keluarga, kamar manula, workspace, area relaksasi, dan urban farming.

Gubahan Massa
Gambar 3. Gubahan massa. (Sumber: Dokumentasi Peserta Sayembara)
​Gambar 4. Potongan melintang bangunan. (Sumber: Dokumentasi Peserta Sayembara)
Implementasi Desain

Ruang Keluarga
​Gambar 5. Interior Ruang Keluarga. (Sumber : Dokumentasi Peserta Sayembara)
​Ruang keluarga melingkupi ruang doa, dimana ruangan ini terintegrasi dengan konsep hutan untuk menambah kesan dekat dengan alam. Sliding Door menggunakan material kaca transparan yang berperan sebagai pemisah ruang. Saat pintu dibuka, maka ruangan ini akan menyatu dengan ruang utama.
​Gambar 6. Interior Ruang Doa. (Sumber: Dokumentasi Peserta Sayembara)
Kamar Manula
Gambar 7. Interior Kamar Manula. (Sumber : Dokumentasi Peserta Sayembara)
Pendekatan hutan yang diimplementasikan pada kamar manula berupa deck untuk kegiatan berjemur dengan pencahayaan alami khas suasana alam. Kamar ini dilengkapi glass sliding door untuk menambah kesan ruang yang luas dan mudah dibuka oleh pengguna.
                             
Workspace
Gambar 8. Interior Workspace. (Sumber : Dokumentasi Peserta Sayembara)
​Suasana alam yang kuat pada lantai dua diterapkan pada area anak untuk belajar dan membaca sebagai stress relief dan meningkatkan mood produktif anak. Aplikasinya pada ruang anak berupa lantai parket kayu, dinding bata ekspos, dan plafon kayu.
Gambar 9. Material Workspace. (Sumber : Dokumentasi Peserta Sayembara)
​Dinding bata diekspos dengan variasi tata letak yang baru. Hal ini berfungsi sebagai estetika seni penataan bata dan membuka rongga untuk sirkulasi udara sehingga ruangan terasa dingin.
Gambar 10. Pemasangan detail craftsmanship brick exposed. (Sumber : Dokumentasi Peserta Sayembara)
Area Relaksasi
Gambar 11. Interior Ruang Relaksasi. (Sumber : Dokumentasi Peserta Sayembara)
​Sebagai area hijau privat, area ini berperan sebagai ruang yang meningkatkan imun tubuh dan gairah kesehatan yang semakin baik. Secara visual, ruang relaksasi ini menambah kesan sejuk dan tenang serta dapat berfungsi sebagai ruang yoga, workout, dan ruang santai.
Gambar 12. Interior Ruang Relaksasi (Sumber : Dokumentasi Peserta Sayembara)
​Selain itu, area relaksasi yang menyerupai hutan ini dilengkapi oleh tanaman anti nyamuk agar penghuni dapat tinggal dengan nyaman.
​Gambar 13. Tanaman anti nyamuk dan material lantai. (Sumber : Dokumentasi Peserta Sayembara)
Urban Farming
​Gambar 14. Interior urban farming. (Sumber : Dokumentasi Peserta Sayembara)
Pendekatan hutan diimplementasikan menjadi sebuah ruang yang mendukung kegiatan produktif  untuk manula, yaitu bercocok tanam buah dan sayur pribadi agar kesehatan mental dan jiwa dapat terjaga dengan baik.

Health Sequence

Gambar 15. Diagram health sequence. (Sumber : Dokumentasi Peserta Sayembara)
​Rangkaian program aktivitas pada For-Rest House menciptakan beberapa alternatif untuk menggantikan kegiatan yang lama dengan berbagai aktivitas baru serta menyalurkan energi produktivitas manusia di tengah pandemi COVID-19. Manusia yang sebelumnya sibuk bekerja, akan menggunakan ruang relaksasi sebagai terapi stres mereka. Program lain yang diciptakan di For-Rest House mendukung anak-anak hingga manula untuk tetap memiliki kegiatan. Hal ini mendorong adanya family time dengan waktu bekerja dan berkumpul dengan keluarga yang seimbang.
Categories
Uncategorized

Material Bangunan Inovatif untuk Masa Depan

​Kecerdasan manusia telah membawa kita pada kemajuan teknologi dan teknik konstruksi modern. Akan tetapi, hal ini belum tentu bersifat ramah lingkungan. Saat ini limbah kontruksi menjadi salah satu polutan terbesar yang dapat mencemari lingkungan dan berdampak buruk bagi kesehatan. Kebutuhan untuk mengurangi emisi karbon global mendorong kita untuk mencari material inovatif yang sifatnya berkelanjutan.

Berikut ini adalah beberapa inovasi material yang sedang dikembangkan.


​1. 3D-print bioplastic

Perusahaan Aectual percaya bahwa penggunaan printer 3D untuk pembangunan sebuah desain adalah solusi yang tepat untuk mengurangi limbah konstruksi. Teknologi 3D printing ini menggunakan bioplastic yang terbuat dari polimer nabati yang merupakan material terbarukan (renewable).

Gambar 1.1. Penggunaan 3D-printing untuk bahan penutup lantai (Sumber: Aectual)
Gambar 1.2. Detail penutup lantai (Sumber: Aectual)


​2. Carbon fiber reinforced plastic

Material yang diperkenalkan pada pertengahan tahun tujuh puluhan ini memiliki kekakuan dan kekuatan seperti baja. Dengan tingkat kepadatan yang hanya seperempat dari baja, maka material ini menjadi lebih efisien.  Material ini dapat digunakan untuk badan mobil, komponen konstruksi dan peralatan olahraga.

Gambar 2. Serat carbon fiber (Sumber:Craftech)

​3. Translucent concrete
​Translucent concrete adalah beton dengan sifat tembus cahaya karena memiliki sekitar 4 persen elemen optical fibers yang tertanam pada beton. Biasanya material ini digunakan untuk fasad dan cladding dinding interior sebagai sumber pencahayaan alami yang dapat mengurangi pemakaian listrik.
Gambar 3. Dinding yang terbuat dari beton translucent (Sumber: The Constructor)

​4. Unfired clay bricks
​Material ini terbuat dari bahan yang sama seperti batu bata pada umumnya, tetapi cara pengeringannya tidak dibakar, melainkan hanya dikeringkan saja. Sehingga proses pembuatannya lebih efisien dan ramah lingkungan karena tidak mengeluarkan gas emisi.
Gambar 4. Unfired clay bricks. (Sumber: arc-architects.com)
 
5. Self-repairing concrete
​Beton yang sedang dikembangkan ini memiliki kemampuan untuk memperbaiki retak sendiri, karena terdapat mikrokapsul yang mengeluarkan resin epoksi, yang berfungsi sebagai lem untuk material ini. Sehingga, perawatan bangunan akan menjadi lebih mudah karena tidak perlu khawatir betonnya akan keropos.
Gambar 5. Mikrokapsul dalam self-repairing concrete. (Sumber: popularmechanics.com)

6. Malleable matter (bahan lunak)
Gambar 6. TransHab yang dikembangkan oleh NASA. (Sumber: thefutureofthings.com)
​TransHab (Transit Habitat) milik NASA merupakan struktur inflatable, yang dapat mengembang seperti balon. Sehingga membutuhkan lapisan material yang bersifat malleable atau lunak. Sisi luar bangunan ini terbuat dari Kevlar yang dianyam secara khusus dan lapisan bawahnya terbuat dari Nextel, yakni sebuah kain keramik (ceramic fabric). Selain itu material-material ini juga berfungsi sebagai thermal insulator agar suhu di dalam TransHab tetap stabil. Transit Habitat ini digunakan di luar angkasa sebagai hunian portable yang efisien karena bisa menyediakan ruang dengan kondisi dapat ditinggali tanpa mengambil sumber daya sekitar.
 
Inovasi material tidak akan pernah berhenti karena teknologi akan terus berkembang, apalagi proses penelitian telah menghasilkan beberapa material yang lebih awet dan ramah lingkungan. Sehingga dengan inovasi material, maka arsitek dan rumpun profesi lainnya bisa mendesain bangunan yang lebih baik lagi di masa depan.