Pada acara ini dipamerkan karya-karya terbaik dari mahasiswa arsitektur tingkat akhir Universitas Tarumanagara. Karya-karya ini direview oleh Jusuf Setiadi, Ardi Jahya, dan Surjono Kunianto (PT Airmas Asri) pada 26 Juli 2016.
Empat karya terbaik hasil review Public Expose 8.21 pada tanggal 26 Juli yang lalu yaitu Caroline (315120126) sebagai pemenang pertama, Aurelia (315120075) sebagai pemenang kedua, serta Carsent (315120129) dan Clara (315120134) sebagai pemenang ketiga. Berikut akan dibahas karya-karya para pemenang review Public Expose 8.21.
oleh Caroline (315120126)
Sumber: Dokumen pribadi
Museum ini memiliki luas tapak sekitar 4.5 ha dan luas bangunan 15.234m2. Program yang dimiliki disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan yang membutuhkan area pendidikan bagi anak-anak yang disajikan dengan area rekreasi yang dapat mendidik anak-anak dalam bidang seni musik tradisional Indonesia.
Perancangan museum ini difokuskan kepada sirkulasi yang disajikan untuk pengunjung, dimana pameran yang disajikan memperkenalkan seluruh alat musik tradisional indonesia dari Sabang sampai Merauke dengan menggunakan teknologi-teknologi yang membuat interaksi antara manusia dengan alat musik tradisional Indonesia, baik fisik alat musik, cara memainkannya, dan bunyi dari alat musik ini.
oleh Aurelia (315120075)
Sumber: Dokumen Pribadi
Sumber: Dokumen pribadi
Sumber: Dokumen pribadi
Keberadaan planetarium di Indonesia pun jauh dari kata layak jika diukur dari tingkat perkembangan teknologi dan tepatnya sasaran pengunjung.
Dengan mengedepankan pengunjung primer yaitu anak-anak middle-childhood, proyek ini didesain child-friendly dengan berbagai stimulus sehingga anak-anak semakin antusias untuk belajar hal yang sebenarnya sulit.
Pendekatan yang dilakukan dengan memangaatkan tektonik dan teknologi yang dikembangkan dan dipilih dengan cermat. Karakteristik yang ditonjolkan adalah cara pandang tipologi yang baru. Pengenalan berbagai simulasi high-technology dan penerapan ilusi-ilusi baik secara optikal maupun pengalaman ruang.
Dengan mengkaji kembali cara pandang tipologi yang baru, kita dapat menemukan hal-hal baru yang ternyata kita alami sehari-hari tetapi tidak kita sadari. Misalnya, benarkah planetarium harus dome? Apakah benar cara duduk kita adalah cara duduk terbaik? Lalu mengapa kita kerap kali kita malas duduk dengan cara yang kita anggap terbaik? Jadi, yang terbaik benarkah yang terbaik?
oleh Carsent (315120129)
Sumber: Dokumen pribadi
Sumber: Dokumen pribadi
Sumber: Dokumen Pribadi
Musik indie adalah salah satu alternatif untuk keadaan industri musik Indonesia sekarang, musik indie adalah musik dimana dalam pengadaan, aransmen, hingga publikasi dilakukan independent atau mandiri.
Tetapi untuk hal itu, musik indie mendapat tekanan dari pasar ataupun kaum komersial, perlunya suatu wadah yang menjadi cerminan, kritikan, yang sekaligus menjadi tempat bereksplorasi, berkreasi, dan melakukan sounding buat mereka dan secara eksplisit juga menjadi pusat aktivitas baru di daerah sekitarnya.
oleh Clara (315120134)
Sumber: Dokumen pribadi
Dengan latar belakang sejarah yang sangat kuat, Kota Tua mulai dipandang sebagai sesuatu yang istimewa. Berbagai peraturan ditetapkan untuk menjadikan kawasan ini tetap asli, seperti pada zamannya. Sayangnya, hal ini justru menjadikan kota tua terkesan dibentengi dari manusia dan lingkungan sekitarnya.
Kota tua seringkali dianggap sebagai sebuah batas antara yang lama dan yang baru. Kebebasan yang seharusnya ada dalam sebuah public space tidak terlihat disini, baik dalam interaksi antar manusia maupun interaksi dengan lingkungannya.
Karena batas menjadi sebuah konteks yang tidak dapat lepas dari kota ini, maka border.less space, akan mengembalikan arti perbatasan yang seharusnya. Dimana batas akan dilihat sebagai sebuah koneksi antara ruang-ruang yang hilang. Menciptakan rasa keingintahuan bagi pengunjungnya untuk menjelajahi setiap titik perbatasan dalam kota.







